Al-Firqatun An-Najiyyah (Golongan Yang Selamat)


Rasulullah bersabda :
 إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وفي رواية : على ثلاث وسبعين ملة. قالو : ومن هي يارسول الله؟ قال : هي الجماعة. يد الله مع الجماعة. وفي رواية : قال : ما أنا عليه وأصحابي.
”Orang-orang Yahudi telah terpecah menjadi 71 firqah semuanya masuk neraka kecuali satu. Orang-orang Nashara terpecah menjadi 72 firqah semuanya masuk neraka kecuali satu. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 firqah semuanya masuk neraka kecuali satu.” Dalam satu riwayat : ”Menjadi 73 millah”.  Para shahabat bertanya : “Siapakah dia yang selamat itu ya Rasulullah ?. Maka Rasulullah menjawab : ”Meraka adalah Al-Jama’ah. Tangan Allah di atas jama’ah”.

Dalam riwayat lain beliau bersabda : ”Yaitu apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya”.
[Ibnu Taimiyyah berkata : Hadits ini Shahih Masyhur di dalam kitab-kitab Sunan dan Masaanid, seperti Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’I, dan yang lain. Lihat Majmu’ Fatawaa Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah juz 3 halaman 345].
Menurut Syaikh Al-Albani, hadits masalah perpecahan umat ini derajatnya ada yang shahih dan ada pula yang hasan.
Berdasarkan hadits di atas jelas bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 firqah; 72 di antaranya di neraka dan satu di surga, yang berarti ada satu firqah yang selamat.
Adapun tentang istilah-istilah Al-Firqatun-Najiyyah (Golongan yang Selamat), maka ada beberapa penyebutan :
1.      Terkadap di sebut Al-Jama’ah. Sebagaimana diterangkan hadits di atas.
Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :
الجماعة : ما وافق الحق وإن كنت وحدك

“Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun sendirian”

Dalam lafadh lain :
إنما الجماعة : ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك
”Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah sekalipun sendirian” (Lihat Kitab Ahlus-Sunnah, Ma’alim Al-Inthilaqatil-Kubra, halaman 49).
2.      Terkadang diistilahkan pula Ahlur-Rahmah (orang yang mendapat rahmat dari Rabb-Nya).
Allah ta’ala berfirman :
وَلَوْ شَآءَ رَبّكَ لَجَعَلَ النّاسَ أُمّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ *  إِلاّ مَن رّحِمَ رَبّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ
”Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (QS. Huud : 118-119).
Qatadah berkata : “Maksud orang yang mendapat rahmat adalah Al-Jama’ah, sekalipun masing-masing terpisah rumah/negeri dan badannya. Sedangkan  orang yang maksiat adalah Al-Firqah sekalipun satu rumah/negeri dan satu badan”. (Ma’alimul-Inthilaaqatil-Kubra halaman 28).
3.      Terkadang disebut pula Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (sebagaimana dalam hadits).
 أهل السنة = ما أنا عليه  = Jalannya Rasul.
 والجماعة = وأصحابي = Jalannya Shahabat.
Dalam hadits lain :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين
”Wajib bagimu berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radliyallaahu ‘anhum)” (Ma’alamul-Inthilaaqatil-Kubra halaman 46).
4.      Sering pula dinamakan Ath-Thaifah Al-Manshurah (Kelompok yang Ditolong – oleh Allah)
Rasulullah bersabda :
لا تزال من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله
”Tidak pernah berhenti sekelompok dari umatku yang selalu membela kebenaran. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka hingga datang keputusan Allah” (HR. Muslim).
5.      Juga kadang dinamakan Ahlul-Hadits; sebagaimana perkataan Imam Ahmad :
إن لم تكن هذه الطائفة المنصورة أصحاب الحديث فلا أدري من هم ؟
“Seandainya Thaifah Manshurah ini bukan Ahlul-Hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu” (Minhaj Al-Firqatun-Najiyyah oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu halaman 16).
Ibnu Taimiyyah memberikan komentar tentang Ahli Hadits : “Yang kami maksud dengan ahli hadits bukan terbatas hanya pada orang yang menekuni untuk mendengar atau menulis atau meriwayatkannya saja, tetapi mencakup siapa saja yang berhak untuk menghafal, mengetahui, dan memahaminya secara lahir maupun dan bathin, serta kemudian mengikutinya baik secara lahir maupun bathin. Begitu pula Ahli Qur’an”.
Peringkat paling sederhana dari pekerjaan Ahli Hadits adalah mencintai Al-Qur’an dan Al-Hadits, membahas makna-makna keduanya, dan mengamalkan apa-apa yang telah mereka pahami dari tuntutan keduanya. (Ma’alimul-Inthilaaqatil-Kubra halaman 50).
Di jaman sekarang banyak orang yang disebut-sebut sebagai Ahli Hadits ( baca : Doktor Jurusan Hadits), tetapi sayangnya ia tidak termasuk Ahlus-Sunnah. Disebabkan ia belajar hadits hanya untuk ilmu, bukan untuk diamalkan.
6.      Disebut pula As-Salafush-Shalih
Syaikh Abdulaziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah ketika ditanya tentang Al-Firqatun-Najiyah, beliau menjawab : “Mereka adalah orang-orang salaf dan orang-orang yang mengikuti jalannya As-Salafush-Shalih (Rasul dan para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum) (Minhaj Al-Firqatun-Najiyyah oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu halaman 15).
Jadi tentang nama-nama tersebut di atas adalah nama yang syar’iy (tidak bid’ah).
Al-Firqatun-Najiyyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah mungkin bisa terjadi dimana hanya dilakukan oleh sekelompok kecil manusia, bahkan bisa perorangan; yang menurut nash telah jelas yaitu bahwa bumi ini tidak akan pernah kosong dari Thaifah Manshurah ini, kecuali menjelang hari kiamat.
Sifat-Sifat Golongan Yang Selamat
Adapun sifat-sifat Golongan yang Selamat (Al-Firqatun-Najiyyah) adalah sebagai berikut :
1.      Selalu istiqamah dalam berpegang teguh dengan al-haq., yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah sebagaimana yang dipahami oleh As-Salafush-Shalih. Allah ‘azza wa jalla berfirman :
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرّقُواْ
”Dan berpegangteguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Alah secara keseluruhan, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Aali Imarn : 103).
Rasulullah telah bersabda :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين. تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ
“Wajib bagimu berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu kuat-kuat” (HR. At-Tirmidzi; hasan-shahih).
Allah ta’ala berfirman :
وَأَنّ هَـَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتّبِعُوهُ وَلاَ تَتّبِعُواْ السّبُلَ
”Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)” (QS. Al-An’am : 153).
Jalan lurus yang dimaksud adalah jalannya Rasulullah dan para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum ajma’in.
2.      Mengikuti jejak Rasulullah , para shahabat, dan para imam ahlul-hadits dalam segala hal. Seperti dalam beraqidah, beribadah, berhukum, bermuwalah, dan sebagainya.
Al-Firqatun-Najiyyah dalam Beraqidah
1.      Sumber aqidah hanya Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang shahihah.
2.      Semua khabar yang shahih dari Rasulullah diimani dan dibenarkan. Orang salaf tidak membedakan antara khabar mutawatir dan khabar ahad yang shahih.
3.      Dalam memahami nash-nash selalu mengambil penjelasan dari nash-nash itu sendiri, kemudian qaul As-Salafush-Shalih (para shahabat), kemudian imam yang berjalan sesuai dengan manhaj mereka. Baru setelah itu kembali kepada kaidah bahasa Arab yang shahihah.
4.      Menyerah pada wahyu (dalil naqli) dan tidak menentangnya baik dengan akal, perasaan, atau pendapat imam. Akal bisa dipakai sesuai dengan sesuai dengan fungsinya, tidak dipakai untuk memikirkan hal-hal yang bukan wilayahnya, seperti shifat-shifat Allah, masalah ghaib, surga, nereka, dan lain-lain.
5.      Menggunakan istilah-istilah syar’i, tidak menggunakan istilah-istilah bid’ah.
6.      Akal sehat tidak bertentangan dengan nash yang shahih. Akan tetapi jika seolah-olah bertentangan, maka nash wajib didahulukan.
(Diambil dari kitab-kitab : Al-‘Aqidah Fillah oleh Al-Asyqar; Wujud Luzuumil-Jama’ah  oleh Jamal bin Ahmad bin Basyirbadi; Mujmal Ushul Aqidah Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah] oleh Dr. Nashir bin Abdilkarim Al-‘Aql).
Keistimewaan ‘Aqidah Al-Firqatun-Najiyyah
Yaitu, memelihara kemurnian tauhid.
Dalam hal ini ada dua macam :
1.      Tauhidullah
Meliputi : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Mengapa ulama salaf setelah membahas Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, kemudian membahas Tauhid Asma’ wa Shifat secara khusus ?
Jawaban : Karena masalah shifat-shifat Allah ini merupakan masalah ghaibiyyah, seperti : Allah punya tangan, mata, berbicara, turun, bersemayam, dan sebagainya. Dalam hal ini, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mengimani semua shifat-shifat yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik dalam menetapkan atau menafikkannya. Jadi tidak terbatas 13 atau 20 shifat sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Abul-Hasan Al-Asy’ary (yang alhamdulillah beliau rujuk kepada aqidah shahihah menjelang akhir hayatnya). Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mengimani semua shifat-shifat yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan tidak merubah artinya, tidak menolak, tidak pula menanyakan kaifiyyahnya. Ahlus-Sunnah mengimani sebagaimana dhahir nash dengan berlandaskan firman Allah :
 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السّمِيعُ الْبَصِيرُ
”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia – dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuuraa : 11).
Jadi, shifat-shifat Allah itu tidak sama dengan shifat makhluk-Nya sedikitpun. Memang, para ulama salaf mempunyai cara tersendiri dalam meluruskan akal. Salah satunya dengan memahamkan Tauhid Asma’ wa Shifat. Kalau seorang muslim sudah bisa menerima tauhid ini sesuai dengan pemahaman salaf – dengan tidak melakukan ta’wil - , misalnya dengan mengimani bahwa Allah mempunyai mata, kaki, dan lain-lain. InsyaAllah dalam menghadapi atau memahami ayat-ayat lain seperti Nabi ‘Isa turun, atau berita-berita ghaib lainnya, ia akan mengimaninya tanpa perlu berpikir-pikir lagi (jika memang dilandasi oleh nash Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang jelas/sharih).
Inilah pentingnya Tauhid Asma’ wa Shifat dalam meluruskan akal yang sok ilmiah (dengan permainan logika/mantiq).
2.      Tauhid Ittiba’
Tauhidullah dan Tauhid Mutaba’ah (tauhid hanya mengikuti petunjuk Nabi dalam agama) adalah dua rukun dan dua asas yang hakiki dalam Islam. Keduanya itulah hakikat dua kalimat syahadat, sehingga dengannya suatu amal bisa diterima.
Imam Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafy berkata : “Tidaklah seseorang itu selamat dari ‘adzab, kecuali jika telah merealisasikan dua tauhid tersebut”.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Secara global arti dua kalimat tauhid tersebut adalah  Pertama, tidaklah kita beribadah kecuali hanya kepada Allah; Kedua, tidaklah kita beribadah kecuali kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan (oleh Rasulullah ). Kita tidak boleh beribadah dengan cara bid’ah”.
Ibnul-Qayyim berkata : “Tidaklah seseorang dikatakan telah merealisasikan ayat { إِيّاكَ نَعْبُدُ} “Hanya kepada-Mu kami menyembah”, kecuali jika orang tersebut telah merealisasikan dua masalah besar, yaitu :
a.    Tauhid Ittiba’; yaitu mutaba’ah kepada Ar-Rasul .
b.    Tauhidullah.
(Lihat : Wujuub Luzuumil-Jama’ah oleh Jamal bin Ahmad bin Basyirbadi halaman 311).
Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu mengatakan : “Sesungguhnya kami adalah orang yang mutbi’ (mengikuti), bukan mubtadi’ (membuat bid’ah). Jika kami dalam keadaan lurus maka maka ikutilah; dan jika bengkok/menyimpang, maka luruskanlah”.
Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :
إتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
”Ikutilah dan jangan membuat hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya hal itu telah cukup bagimu” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani).
Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata :
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
”Semua bid’ah adalah sesat sekalipun manusia melihat hal itu baik” (Diriwayatkan oleh Al-Laalika’i]).
{Lihat Tanbih Ulil-Abshar karya Syaikh Dr. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimy halaman 66}.
Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Pokok-pokok Ahlus-Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh pada apa yang ada pada shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengikutinya, serta meninggalkan bid’ah. Karena semua bid’ah adalah sesat” (Ushulus-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal).
Imam Syafi’i dan Al-Laits bin Sa’ad berkata : “Ahlul-Ahwa’ itu sekalipun bisa berjalan di atas udara, tidak akan kami terima”.
{Lihat : Tanbih Ulil-Abshar karya Syaikh Dr. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimy halaman 70}
Dalam rangka merealisasikan Tauhid Ittiba’ ini, maka Tauhid ini harus didasari cinta pada Rasulullah melebihi cintanya pada bapak, anak, maupun dirinya sendiri.
Dari Abdullah bin Hisyam radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Kami beserta Nabi . Disampingnya terdapat Umar bin Khaththab. Maka ‘Umar berkata pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Sungguh aku mencintai engkau di atas segalanya kecuali diriku”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak! Demi Dzat yang diriku ada di Tangan-Nya. Bahkan sampai engkau menjadikan aku yang paling engkau cintai daripada dirimu”. Maka berkata ‘Umar kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Sungguh sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Maka Rasulullah berkata,”Demikianlah ya ‘Umar….” (HR. Bukhari).
Berkata Syaikh Sulaiman bin Abdullah Aali Syaikh : “Syarat mahabbah (cinta) adalah harus sesuai dengan yang dicintai, mencintai apa yang dicintai, dan membenci apa yang dibenci” (Taisirul-Azizil-Hamid Syarhu Kitaabit-Tauhid halaman 472).
Berkata Ibnu Taimiyyah : “Salah satu dari konsekuensi mahabbah (cinta) pada Rasulullah ialah harus menjunjung tinggi sunnah dan melaksanakannya, serta tidak menolaknya disebabkan bertentangan dengan pendapat dan akalnya, atau qiyas atau perkataan orang, dan lain-lain” (Majmu’ Fataawaa 17/443-445).
Termasuk konsekuensi cinta ialah memperbanyak membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah dengan tidak berlebihan seperti yang dilakukan oleh ahlul-bida’; kemudian mencintai shahabat dan keluarganya radliyallaahu ‘anhum ajma’in. Juga memberikan wala’ (loyalitas) serta keridlaan pada mereka dan diam dalam mensikapi fitnah yang menimpa para shahabat, serta membenci orang-orang yang membenci shahabat.
{Lihat : Wujub Luzuumil-Jama’ah karya Syaikh Jamal bin Ahmad bin Basyirbadi halaman 322}.
Dalil-Dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
Allah ta’ala telah berfirman :
وَمَن يُشَاقِقِ الرّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُ الْهُدَىَ وَيَتّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلّهِ مَا تَوَلّىَ وَنُصْلِهِ جَهَنّمَ وَسَآءَتْ مَصِيراً
”Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisaa’ : 115).
Rasulullah bersabda :
كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى.  قالوا : يا رسول الله ومن يأبى؟.  قال : من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى.
”Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para shahabat bertanya : “Siapa yang enggan itu yan Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka itulah orang-orang yang enggan (masuk surga)” (HR. Bukhari).
من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصا الله
”Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka berarti ia bermaksiat kepada Allah” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam melaksanakan sunnah/syari’at Islam, hendaknya kita sandarkan sebagaimana yang dilakukan para shahabat, karena para shahabat dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam hanya bersumber pada dua perkataan, yaitu perkataan Allah dan perkataan Rasulullah (Ma’alimul-Inthilaaqatil-Kubra oleh Muhammad Abdil-Hadi Al-Mishri, halaman 31).
Bagaimana dengan ketentuan hukum yang disimpulkan menurut ahli Ushul-Fiqh ? Kita tidak menolak hukum-hukum kaidah ushul-fiqh. Karena yang menciptakan qaidah ushul fiqh adalah para imam yang mu’tabar (sudah memenuhi kriteria sebagai mujtahid; seperti Imam Syafi’i, Malik, Ahmad, dan Abu Hanifah). Akan tetapi dalam pengamalan, kita harus mengambil sikap sebagaimana yang dilakukan para salaf kita, yaitu berdasarkan nash-nash shahih dari Rasulullah beserta para shahabatnya. Baik dari masalah kecil maupun yang besar, asalkan dengan niat ikhlash dan ittiba’. Terlepas hukumnya sunnah atau wajib. Dalam meninggalkan maksiat pun harus seperti itu, terlepas hukumnya haram atau makruh. Inilah amalan-amalan yang dilakukan oleh As-Salafaush-Shalih.
Mudah-mudahan kita termasuk golongan pengikut As-Salafush-Shalih.
===Abu Al-Jauzaa’ 1427 in Rain City=======

[nemu tulisan di laptop 11 tahun yang lalu saat masih aktif di MyQuran]

Comments