Khawaarij ‘alad-Du’at


Ibnul-Jauziy rahimahullah berkata:
قال أبو الوفاء علي بن عقيل الفقيه : قال شيخنا أبو الفضل الهمداني : مبتدعة الإسلام، والوضاعون للأحاديث أشد من الملحدين؛ لأن الملحدين قصدوا إفساد الدين من الخارج، وهؤلاء قصدوا إفساده من الداخل؛ فهم كأهل بلد سعوا في إفساد أحواله، والملحدون كالمحاصرين من الخارج، فالدخلاء يفتحون الحصن؛ فهم شر على الإسلام من غير الملابسين له
“Abul-Wafaa’ ‘Aliy bin ‘Aqiil Al-Faqiih berkata : Telah berkata syaikh kami Abul-Fadhl Al-Hamdaaniy : ‘Mubtadi’ (ahli bid’ah) dalam Islam dan para pemalsu hadits lebih berbahaya dibandingkan orang-orang mulhid (atheis/kafir), karena orang-orang mulhid ingin merusak agama dari luar, sedangkan mereka ingin merusak Islam dari dalam. Mereka itu seperti penduduk negeri yang berusaha merusak keadaan mereka sendiri. Adapun orang-orang mulhid seperti orang yang melakukan pengepungan dari luar, sedangkan orang-orang yang berada di dalam (yaitu ahli bid’ah dan para pemalsu hadits) membukakan gerbang bentengnya. Oleh karena itu, mereka (ahli bid’ah) lebih jelek terhadap Islam daripada orang-orang yang terang-terangan memusuhi Islam” [Al-Maudluu’aat, 1/51].

Al-Haafidh ‘Abdul-Ghaniy Al-Maqdisiy rahimahullah berkata:
واعلم رحمك الله أن الإسلام وأهله أُتُوا من طوائف ثلاثة :
فطـائفة رَدَّت أحاديث الصفـات، وكذبوا رواتها؛ فهؤلاء أشد ضرراً على الإسلام وأهله من الكفار.
وطـائفة قـالوا : بصحـتها وقبولها ثم تأولوها؛ فهؤلاء أعظم ضرراً من الطائفة الأولى.
والثـالـثة : جـانبوا القولين الأولين؛ وكانوا أعظم ضرراً من الطائفتين الأولين
“Dan ketahuilah – semoga Allah merahmatimu – bahwa Islam dan orang-orangnya (kaum muslimin) didatangi oleh tiga golongan manusia:
1.    golongan yang menolak hadits-hadits sifat dan mendustakan para perawinya, maka mereka itu lebih berbahaya terhadap Islam dan kaum muslimin daripada orang-orang kafir;
2.    golongan yang mengatakan (mengakui) tentang keshahihannya dan menerimanya, lalu menta’wilkannya, maka mereka lebih besar bahayanya daripada golongan yang pertama; serta
3.    golongan ketiga yang menjauhkan diri dari dua pendapat awal, maka mereka lebih besar bahayanya daripada dua golongan sebelumnya” [‘Aqiidah Al-Haafidh ‘Abdil-Ghaniy, hal. 121].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فإن بيان حالهم، وتحذير الأمة منهم واجب باتفاق المسلمين، حتى قيل لأحمد بن حنبل : الرجل يصوم ويصلي ويعتكف أحب إليك، أو يتكلم في أهل البدع ؟ .  فقال : "إذا صام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين.
فتبين أن نفع هذا عام للمسلمين في دينهم، من جنس الجهاد في سبيل   الله؛ إذ تطهير سبيل الله، ودينه، ومنهاجه، وشرعته، ودفع بغي هؤلاء وعدوانهم على ذلك؛ واجب على الكفاية باتفاق المسلمين.
ولو لا من يقيمه الله لدفع ضرر هؤلاء لفسد الدين، وكان فساده أعظم من فساد استيلاء العدو من أهل الحرب؛ فإن هؤلاء إذا استولوا لم يفسدوا القلوب وما فيها من الدين إلا تبعاً، وأما أولئك فهم يفسدون القلوب ابتداءً.
وأعداء الدين نوعان : الكفار والمنافقون.
وقد أمر الله بجهاد الطائفتين في قوله: { جاهد الكفار والمنافقين واغلظ عليهم } في آيتين من القرآن.
فإذا كان أقوام منافقون، يبتدعون بدعاً تخالف الكتاب، ويلبسونها على الناس، ولم تُـبَـيّـن للناس؛ فسد أمر الكتاب، وبدل الدين، كما فسد دين أهل الكتاب قبلنا بما وقع فيه من التبديل الذي لم ينكر على أهله.
“Hal itu dikarenakan menjelaskan keadaan mereka (ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang) dan memperingatkan umat dari mereka adalah wajib berdasarkan kesepakatan (ijmaa’) kaum muslimin. Hingga pernah dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal : ‘Orang yang puasa, shalat, dan beri’tikaf dengan orang yang berbicara (menerangkan) tentang keadaan ahli bid’ah, manakah yang lebih engkau sukai ?’. Ia (Ahmad) menjawab : ‘Apabila orang tersebut puasa, shalat, dan beri’tikaf, maka ibadah itu hanya untuk dirinya sendiri. Namun apabila ia berbicara (menerangkan) keadaan ahli bid’ah, maka itu bermanfaat bagi kaum muslimin’.
Maka menjadi jelaslah bahwa manfaat perbuatan tersebut adalah umum bagi kaum muslimin dan agama mereka, dan itu termasuk jihad di jalan Allah (fii sabiilillah), karena membersihkan jalan Allah, agama-Nya, manhaj-Nya, dan syari’at-Nya (dari berbagai penyimpangan), dan menolak kedhaliman dan permusuhan mereka adalah fardlu kifayah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
Seandainya bukan karena orang yang Allah tegakkan untuk menolak bahaya mereka, niscaya akan rusaklah agama. Kerusakan agama lebih besar bahayanya daripada kerusakan yang diakibatkan penguasaan musuh Islam dari kalangan kafir harbi. Penguasaan kafir harbi tidak menyebabkan rusaknya hati dan agama yang ada di dalamnya (hati dan jiwa), kecuali beberapa waktu kemudian. Adapun mereka (ahli bid’ah) merusak hati (kaum muslimin) semenjak awal.
Musuh agama ada dua macam, yaitu orang-orang kafir dan munafik. Allah telah memerintahkan untuk berjihad melawan dua golongan ini melalui firman-Nya : ‘Berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka’ – yang terdapat dua ayat dalam Al-Qur’an.[1]
Apabila orang-orang munafik berbuat kebid’ahan yang menyelisihi Al-Qur’an dan menyamarkannya (talbiis) kepada manusia, lalu hal itu tidak dijelaskan kepada manusia, niscaya rusak Al-Qur’an dan tergantikanlah agama (dengan selain syari’at-Nya) sebagaimana telah rusak agama Ahli Kitab sebelum kita (Yahudi dan Nashrani) akibat tabdiil (penggantian syari’at) yang tidak diingkari oleh pemeluknya” [Majmuu’atur-Rasaail wal-Masaail, 5/109-111].
Asy-Syaathibiy rahimahullah berkata:
حين تكون الفِرقة تدعو إلى ضلالتها، وتزينها في قلوب العوام، ومن لا علم عنده؛ فإن ضرر هؤلاء على المسلمين كضرر إبليس، وهم من شياطين الإنس؛ فلا بد من التصريح بأنهم من أهل البدع والضلالة، ونسبتهم إلى الفرق إذا قامت الشهود على أنهم منهم.
فمثل هؤلاء لابد من ذكرهم، والتشريد بهم؛ لأن ما يعود على المسلمين من ضررهم إذا تُرِكوا أعظم من الضرر الحاصل بذكرهم والتنفير منهم؛ إذا كان سبب ترك التعيين الخوف من التفرق والعداوة.
ولا شك أن التفرق بين المسلمين، وبين الداعين إلى البدعة وحدهم ـ إذا أقيم عليهم ـ أسهل من التفرق بين المسلمين وبين الداعين، ومن شايعهم واتبعهم.
وإذا تعارض الضرران فالمرتكب أخفهما وأسهلهما، وبعض الشر أهون من جميعه، كقطع اليد المتآكلة؛ إتلافها أسهل من إتلاف النفس.
وهـذا حكم الشــرع أبـــداً : يطــرح حــكـم الأخـف وقاية من الأثقــل.
“Ketika satu kelompok mengajak kepada kesesatannya dan menghiasinya pada hati-hati orang awam dan orang tak berilmu, maka kerusakan/bahaya mereka terhadap kaum muslimin seperti kerusakan yang ditimbulkan oleh Iblis. Mereka itu adalah setan-setan dari jenis manusia. Harus dijelaskan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan penyeru kesesatan. Penisbatan mereka kepada kelompok-kelompok (sesat) dilakukan apabila telah tegak bukti bahwa mereka memang termasuk kelompok tersebut.
Yang semisal mereka harus disebutkan (kesesatannya) dan memisahkan darinya. Hal itu dikarenakan kerusakan/bahaya mereka yang akan menimpa kaum muslimin apabila (penjelasan terhadap kesesatan mereka) ditinggalkan, lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan dari penyebutan mereka dan anjuran untuk menjauhkan diri dari mereka - apabila sebab meninggakan ta’yin adalah khawatir menimbulkan perpecahan dan permusuhan.
Dan tidak diragukan lagi, perpecahan antara kaum muslimin dan penyeru kebid’ahan saja – apabila telah ditegakkan hujjah kepada mereka – , lebih ringan daripada perpecahan yang terjadi antara kaum muslimin dengan penyeru kebid’ahan plus orang-orang yang mendukung dan mengikuti mereka.
Apabila ada dua kerusakan yang saling berbenturan, maka yang diambil adalah yang paling ringan dan paling mudah. Sebagian kejelekan lebih ringan daripada keseluruhannya, seperti halnya memotong tangan penyakitan yang menggerogoti tubuh lebih ringan daripada hilangnya jiwa.
Maka ini adalah hukum syar’iy yang berlaku selamanya, yaitu menjatuhkan/menetapkan hukum yang lebih ringan dalam rangka melindungi yang lebih berat” [Al-I’tishaam, 2/228-229].
Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata:
وقد تكون مفسدة اتباع أهوية المبتدعة أشد على هذه الملة من مفسدة اتباع أهوية أهل الملل؛ لأن المبتدعة ينتمون إلى الإسلام، ويظهرون للناس أنهم ينصرون الدين، ويتبعون أحسنه، وهم على العكس من ذلك، والضد لما هنالك، فلا يزالون ينقلون من يميل إلى أهويتهم من بدعة إلى بدعة، ويدفعونه من شنعة إلى شنعة، حتى يسلخوه من الدين، ويخرجوه منه، وهو يظن أنه منه في الصميم، وأن الصراط الذي عليه هو الصراط المستقيم.
هذا إن كان في عداد المقصرين، ومن جملة الجاهلين.
وإن كان من أهل العلم والفهم المميزين بين الحق والباطل؛ كان في اتباعه لأهويتهم ممن أضله الله على علم، وختم على قلبه، وصار نقمة على عباد الله، ومصيبة صبها   الله على المقصرين؛ لأنهم يعتقدون أنه في علمه وفهمه لا يميل إلا إلى الحق، ولا يتبع إلا الصواب؛ فيضلون بضلاله، فيكون عليه إثمه، وإثم من اقتدى به إلى يوم القيامة.
نسأل الله اللطف والسلامة والهداية.
“Kadang kerusakan yang ditimbulkan dari mengikuti hawa nafsu ahli bid’ah lebih besar bagi agama ini daripada kerusakan mengikuti hawa nafsu pemeluk agama lain (non-Islam), karena ahli bid’ah menyandarkan diri pada Islam dan menampakkan diri pada manusia bahwa diri mereka menolong agama dan mengikuti yang paling baik. Padahal keadaan mereka adalah sebaliknya. Mereka senantiasa membawa orang condong pada hawa nafsu mereka, dari satu bid’ah ke bid’ah lainnya; menggerakkannya dari satu kejelekan kepada kejelekan yang lain hingga akhirnya mengeluarkannya dari agama. Orang tersebut menyangka dirinya di atas kebenaran dan jalan yang ditempuh adalah jalan yang lurus (ash-shiraatul-mustaqiim). Inilah yang terjadi apabila ia termasuk orang yang meremehkan agama dan jahil (bodoh).
Apabila ia termasuk ahli ilmu (ulama) dan memiliki pemahaman yang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, maka ikutnya ia kepada hawa nafsu mereka (ahli bid’ah) tergolong orang yang Allah sesatkan di atas ilmunya dan Allah tutup hatinya, sehingga ia menjadi bencana bagi hamba-hamba Allah yang lain dan musibah yang Allah timpakan kepada orang-orang meremehkan agama. Mereka (orang-orang awam dan yang meremehkan agama) meyakini orang tersebut di atas ilmunya yang tidak condong kecuali kepada kebenaran, dan tidak mengikuti kecuali pada yang benar. Maka, mereka pun sesat dengan kesesatan orang tersebut, sehingga baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Kita memohon kepada Allah kelembutan, keselamatan, dan hidayah” [Fathul-Qadiir, 1/123].
Ini adalah perkataan para ulama tentang kewajiban untuk memperingatkan umat dari penyimpangan dan orang-orang yang menyeru kepadanya. Bukankah dalam Shahiihain telah disebutkan akan fenomena ini?
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Dari Hudzaifah bin Al-Yamaan radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir aku akan menimpaku”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Aku bertanya : “Apakah setelah kejelekan tersebut akan datang kebaikan?”. Beliau menjawab : “Ya, tetapi padanya ada asap”. Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”. Beliau menjawab : “Suatu kaum yang mengambil sunnah bukan dengan sunnahku, dan memberikan petunjuk (kepada manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan mengingkarinya”. Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan tersebut akan datang kejelekan lagi?”. Beliau menjawab : ”Ya, para dai yang menyeru ke pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka, maka mereka akan menjerumuskannya ke dalamnya (Jahannam)”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami ?”. Beliau menjawab : “Ya. Mereka adalah satu kaum yang berasal dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Aku bertanya : “Lantas, apa saranmu seandainya aku menemui hal itu ?”. Beliau menjawab : “Berpegang teguhlah kepada jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”. Aku bertanya : “Apabila mereka tidak memiliki jama’ah dan imam?”. Beliau menjawab : ”Tinggalkan semua kelompok-kelompok (sesat) itu, meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian mendatangimu sedangkan engkau masih dalam keadaan seperti itu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3606 & 7084 dan Muslim no. 1847].
Oleh karena itu, Nabi mengkhabarkan akan selalu ada orang-orang yang menjaga agama dan memperingatkan umat dari para pelaku penyimpangan sebagaimana sabdanya:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْغَالِينَ
Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari setiap generasi. Mereka akan membersihkan agama dari tahriif (penyelewengan) orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang yang bathil, serta pena’wilan orang-orang yang melampaui batas” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 143, Al-Baihaqiy 10/208, Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin no. 599, dan yang lainnya dari beberapa shahabat].
Hadits ini diperselisihkan para ulama keshahihannya. Dishahihkan oleh Ahmad bin Hanbal, Al-‘Alaaiy, dan Al-Albaaniy; dan dilemahkan oleh ahli hadits lainnya. Namun maknanya adalah benar (shahih).
Ibnu Hibbaan rahimahullah membawakan riwayat dengan sanadnya dari Sa’iid bin Al-Musayyib:
مَرَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بِحَسَّانَ بْنَ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ الشِّعْرَ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَحَظَ إِلَيْهِ، فَقَالَ حَسَّانُ: قَدْ كُنْتُ أُنْشِدُ فِيهِ مَعَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ: أَنْشُدُكَ اللَّهَ، هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: " يَا حَسَّانُ أَجِبْ عَنِّي، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ " ؟، قَالَ: نَعَمْ
“Satu ketika ‘Umar bin Al-Khaththaab melewati Hassaan bin Tsaabit yang sedang melantunkan syairnya di masjid. Maka ‘Umar memperhatikannya. Hassaan berkata : “Sungguh, aku pernah melanturkan syair di dalam masjid bersama orang yang lebih baik darimu (yaitu Nabi ). Kemudian ia (Hassaan) berpaling kepada Abu Hurairah lalu berkata : “Aku memintamu dengan nama Allah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah bersabda : ‘Wahai Hassaan, balaslah mereka (orang-orang kafir) untuk membelaku. Ya Allah, kuatkanlah ia dengan Ruuhul-Qudduus”. Abu Hurairah berkata : “Ya”.[2]
Kemudian Ibnu Hibbaan rahimahullah berkata:
في هذا الخبر كالدليل على الأمر بجرح الضعفاء، لأن النبي ﷺ قَالَ لحسان بن ثابت: " أجب عني "، وإنما أمر أن يذب عنه ما كان يقول عليه المشركون فإذا كان في تقول المشركين على رسول الله ﷺ يأمر أن يذب عنه، وإن لم يضر كذبهم المسلمين، ولا أحلوا به الحرام، ولا حرموا به الحلال، كان من كذب على رسول الله ﷺ من المسلمين الذي يحل الحرام، ويحرم الحلال بروايتهم أحرى أن يؤمر بذب ذلك الكذب عنه ﷺ أن الله تبارك وتعالى يؤيد من فعل ذلك بروح القدس، كما دعا لحسان بذب الكذب عنه، وقال: " اللهم أيده بروح القدس "
“Dalam hadits ini seperti dalil atas perintah untuk mencela para perawi lemah, karena Nabi berkata kepada Al-Hassaan : ‘Balaslah mereka untuk membelaku’. Perintah ini hanyalah untuk membela beliau terhadap apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik terhadap beliau . Apabila dalam perkataan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah diperintahkan untuk membela beliau – meskipun kedustaan mereka tidak memudlaratkan kaum muslimin, tidak menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal - , maka orang yang berdusta terhadap Rasulullah dari kalangan muslimin yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal dengan riwayat mereka lebih pantas/utama untuk diperintahkan melakukan pembelaan dari kedustaan terhadap beliau tersebut. Aku berharap agar Allah tabaaraka wa ta’ala menguatkan orang yang melakukannya dengan Ruuhul-Qudduus sebagaimana beliau berdoa untuk Hassaan agar membela beliau dengan sabdanya : ‘Ya Allah, kuatkanlah ia dengan Ruuhul-Qudduus” [Al-Majruuhiin, 1/10-11].
Kedustaan atas nama beliau bukan hanya dalam masalah hadits/periwayatan, namun meliputi juga kedustaan dalam syari’at dengan berbagai bentuk bid’ah dan penyelewengan sebagaimana disinggung sebelumnya. Berikut akan dibawakan beberapa riwayat tahdzir para ulama terhadap para dai yang mengajak kepada kebid’ahan dan kesesatan.
1.    Tahdzir ulama terhadap pelaku bid’ah secara umum.
Fudlail bin ‘Iyaadl rahimahullah berkata:
مَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَاحْذَرْهُ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ الْبِدْعَةِ لَمْ يُعْطَ الْحِكْمَةَ، وَأُحِبُّ أَنْ يَكُونَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حِصْنٌ مِنْ حَدِيدٍ، آكُلُ عِنْدَ الْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ آكُلَ عِنْدَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ
“Barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah, maka tahdzirlah ia. Barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah, ia tidak akan diberikan hikmah. Aku ingin seandainya antara diriku dengan ahli bid’ah dibatasi dengan benteng dari besi. Aku makan dengan orang Yahudi dan Nashrani lebih aku sukai daripada aku makan di sisi ahli bid’ah” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 1149].
2.    Tahdziir ulama terhadap orang yang mendustakan takdir
‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa berkata:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ، مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ، حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ،
“Apabila engkau bertemu mereka, khabarkan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Dan demi Dzat Yang Ibnu ‘Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu ia menginfakkannya, maka Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman kepada takdir” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 8].
Apakah dai atau orang yang semacam itu sekarang masih eksis ? Jawab : Masih, bahkan banyak.
3.    Tahdziir ulama terhadap orang-orang Khawaarij.
Abu Umaamah radliyallaahu ‘anhu berkata:
شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ، وَخَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوا كِلَابُ أَهْلِ النَّارِ، قَدْ كَانَ هَؤُلَاءِ مُسْلِمِينَ فَصَارُوا كُفَّارًا "، قُلْتُ يَا أَبَا أُمَامَةَ: هَذَا شَيْءٌ تَقُولُهُ، قَالَ: بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka bunuh; mereka itu adalah anjing-anjing penghuni neraka. Sungguh, mereka itu dulunya muslim, namun berubah menjadi kafir”. Aku (Abu Ghaalib) berkata : “Wahai Abu Umaamah, apakah ini sekedar perkataanmu saja ?”. Ia menjawab : “Bahkan, itu adalah yang aku dengar dari Rasulullah [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 176; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/76].
Apakah dai atau orang yang semacam itu sekarang masih eksis ? Jawab : Masih, bahkan banyak.
4.    Tahdzir ulama terhadap orang-orang Murji’ah
Hajjaj rahimahumallah berkata:
سَمِعْتُ شَرِيكًا وَذَكَرَ الْمُرْجِئَةَ، فَقَالَ: هُمْ أَخْبَثُ قَوْمٍ وَحَسْبُكَ بِالرَّافِضَةِ خُبْثًا وَلَكِنِ الْمُرْجِئَةُ يَكْذِبُونَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى
Aku mendengar Syariik (bin ‘Abdillah Al-Qaadliy) menyebutkan tentang Murji’ah, ia berkata : “Mereka adalah kaum yang paling buruk. Engkau mengira Raafidlah lebih buruk, padahal Murji’ah lah yang lebih buruk karena mereka berdusta atas nama Allah” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 614; shahih].
Apakah dai atau orang yang semacam itu sekarang masih eksis ? Jawab : Masih, bahkan banyak.
5.    Tahdzir ulama terhadap orang-orang yang mendustakan syafa’at dan adzab kubur.
Dari ‘Abdullah bin Ar-Ruumiy, ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَأَنَا عِنْدَهُ فَقَالَ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، لَقِيتُ قَوْمًا يُكَذِّبُونَ بِالشَّفَاعَةِ وَبِعَذَابِ الْقَبْرِ، فَقَالَ: أُولَئِكَ الْكَذَّابُونَ، فَلا تُجَالِسْهُمْ "
Seorang laki-laki pernah datang kepada Anas, dan waktu itu aku ada di sisinya. Laki-laki itu berkata : “Wahai Abu Hamzah, aku pernah bertemu dengan satu kaum yang mendustakan syafa’at dan ‘adzab kubur”. Anas berkata : “Mereka itu adalah para pendusta. Janganlah engkau bermajelis dengan mereka !!” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 265 dan Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 1743. ‘Abdullah Ar-Ruumiy mempunyai syaahid dari ‘Abdullah Ad-Daanaaj Al-Bashriy sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaaiy no. 2143. Dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalubul-‘Aaliyyah no. 4534].
Apakah dai atau orang yang semacam itu sekarang masih eksis ? Jawab : Masih, bahkan banyak.
6.    Tahdziir ulama terhadap orang-orang Jahmiyyah
Sufyaan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:
مَا يَقُولُ هَذَا الدُّوَيْبَةُ يَعْنِي بِشْرًا الْمَرِيسِيَّ ؟ "، قَالُوا: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ: يَزْعُمُ أَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوقٌ. قَالَ: " فَقَدْ كَذَبَ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ فَالْخَلْقُ خَلْقُ اللَّهِ، وَالأَمْرُ الْقُرْآنُ ".
”Apa yang dikatakan oleh hewan kecil ini ?” – yaitu Bisyr Al-Marisi - . Orang-orang berkata : ”Wahai Abu Muhammad, mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk”. Ibnu ’Uyainah berkata : ”Dia dusta, karena Allah ’azza wa jalla berfirman : ‘Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah’ (QS. Al-A’raf : 54). Al-Khalqu adalah makhluk Allah dan al-amru adalah Al-Qur’an”.
Setelah membawakan riwayat ini, Al-Laalikaaiy berkata :
وَكَذَلِكَ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَنُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الذُّهْلِيُّ، وَعَبْدُ السَّلامِ بْنُ عَاصِمٍ الرَّازِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ الْوَاسِطِيُّ، وَأَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ
”Begitulah yang dikatakan Ahmad bin Hanbal, Nu’aim bin Hammaad, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy, ’Abdus-Salaam bin ’Aashim Ar-Razi, Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy, dan Abu Haatim Ar-Raaziy” [Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 358].
Dari Yahyaa bin Khalaf Ar-Rabii’ Ath-Thursuusiy, ia berkata:
كنت عند مالك بن أنس ودخل عليه رجل فقال : يا أبا عبد الله ما تقول فيمن يقول القرآن مخلوق ؟. فقال مالك : زنديق اقتلوه، فقال : يا أبا عبد الله، إنما أحكى كلاما سمعته، فقال لم أسمعه من أحد، إنما سمعته منك، وعظم هذا القول
“Aku pernah di sisi Maalik bin Anas, dan masuklah seorang laki-laki menemuinya lalu berkata : ‘Wahai Abu ’Abdillah, apa yang engkau katakan tentang orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk ?’. Maalik menjawab : ‘Zindiiq, bunuhlah ia’. Lalu laki-laki berkata : ‘Wahai Abu ’Abdillah, aku hanya meriwayatkan perkataan yang aku dengar saja’. Maka Maalik berkata : ‘Aku tidak pernah mendengar dari seorang pun kecuali dari engkau’. Maalik pun menganggap besar perkataan ini [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 6/325; shahih].
Apakah dai atau orang yang semacam itu sekarang masih eksis ? Jawab : Masih, bahkan banyak.
Dan masih banyak perkataan yang lain.
Kembali ke judul,…. Jika ada orang mengatakan Khawaarij ‘alad-du’aat, apa artinya ?. Kalimat yang sering dialamatkan kepada Salafiyyun ini secara teori – menurut apa yang tertulis dan terkatakan oleh mereka yang pernah menuliskan dan mengatakannya - adalah (kurang lebih) : ‘galak dan garang terhadap para dai di luar kelompoknya dengan vonis fasiq, ahli bid’ah, atau bahkan kafir’.
Meski secara teori maknanya ‘lumayan’, tapi realitasnya mereka melakukan malapraktik dengan kalimat itu. Ujungnya batil. Betapa tidak ?. Mereka ini adalah kaum pegiat aktivitas kumpul-kumpul muti-firqah, dan kalau sudah kumpul biasanya sakit giginya kumat secara kolektif. Penyimpangan yang dilakukan teman kumpulnya yang seharusnya diomongkan, hanya didiamkan saja.
Gara-gara kumpul, HRS yang banyak terindikasikan membela Syi’ah/Raafidlah ditokohkan, bahkan diangkat menjadi imam besar. Orang shufi dan thariqaat, yo wis nggak apa-apa yang penting satu barisan. Tokoh yang pemikirannya rada-rada Qadariy dan mu’taziliy, dibela habis-habisan. Amalan TBC (takhayul, bid’ah, dan khurafat) di-pending dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Syirik, idem. Permasalahan khalqul-qur’an yang dulunya dianggap masalah besar dan pokok, diubah menjadi permasalahan khilafiyyah saja. Sampai pada orang yang perilakunya mirip dukun yang konon punya kemahiran meruqyah langit, mendapat tempat. Tidak cukup itu, oknum 'psikopat' pecinta selfie yang terkenal dengan mulut jambannya ala Ahok ketika mendaulatkan diri sendiri sebagai dai (palsu), diakui.
Ya,…. semua akibat kumpul-kumpul, terkontaminsasi paham pluralisasi dan liberalisasi manhaj. Asal mengaku muslim (harus) dianggap salafiy (juga).[3]
Bukankah Allah ta’ala berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar” [QS. Aali ‘Imraan: 110] ??
Juga Rasulullah telah bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْماَنِ
Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, hendaklah ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga, maka hatinya. Itulah selemah-lemah iman” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 49] ??
Mungkin ini adalah efek slogan lawas yang masih terpelihara:
نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضاً فيما اختلفنا فيه
“Kita saling tolong-menolong dalam perkara yang kita sepakati dan kita saling memberi ‘udzur/toleransi sebagian kita terhadap sebagian yang lain dalam perkara yang kita selisihkan”.
Meniadakan nasihat, kritik, dan bahwa tahdzir terhadap kesalahan dan penyimpangan bukan tindakan terpuji meski digandrungi banyak orang awam. Justru ini merupakan ciri-ciri Murji’ah sebagaimana dikatakan Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
وبازاء هؤلاء المكفرين بالباطل أقوام لا يعرفون اعتقاد أهل السنة والجماعة كما يجب أو يعرفون بعضه ويجهلون بعضه وما عرفوه منه قد لا يبينونه للناس بل يكتمونه ولا ينهون عن البدع المخالفة للكتاب والسنة ولا يذمون أهل البدع ويعاقبوهم بل لعلهم يذمون الكلام في السنة وأصول الدين ذما مطلقا لا يفرقون فيه بين ما دل عليه الكتاب والسنة والاجماع وما يقوله أهل البدعة والفرقة أو يقرون الجميع على مذاهبهم المختلفة كما يقر العلماء في مواضع الاجتهاد التي يسوغ فيها النزاع وهذه الطريقة قد تغلب على كثير من المرجئة وبعض المتفقهة والمتصوفة والمتفلسفة كما تغلب الأولى على كثير من أهل الأهواء والكلام وكلا هاتين الطريقتين منحرفة خارجة عن الكتاب والسنة
“Kebalikan orang-orang yang gemar mengkafirkan secara batil adalah sekelompok orang yang tidak mengetahui ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah sebagaimana yang diwajibkan, atau mengetahui sebagian namun jahil terhadap sebagian yang lain – dan apa yang mereka ketahui tersebut tidak mereka jelaskan kepada manusia, namun malah mereka sembunyikan. Mereka tidak melarang kebid’ahan yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta tidak mencela dan memberikan hukuman terhadap ahli bid’ah. Bahkan, mereka mencela perkataan yang menjelaskan tentang sunnah dan ushuluddiin dengan celaan secara mutlak. Mereka tidak membedakan antara perkara yang berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmaa’; dengan apa yang dikatakan oleh ahlul-bid’ah wal-furqah. Atau mereka mengakui semua madzhab mereka (ahli bid’ah) yang berbeda-beda sebagaimana pengakuan para ulama terhadap eksistensi perkara-perkara ijtihadiyyah yang membolehkan adanya perbedaan pendapat. Jalan ini telah memperdaya banyak kelompok Murji’ah, orang yang berlagak faqih, orang shufi, dan filosof sebagaimana hal yang pertama telah memperdaya kebanyakan pengikut hawa nafsu dan ahli kalam. Keduanya merupakan jalan menyimpang yang keluar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 12/467].
Perkataan Syaikhul-Islaam sangat mencocoki fenomena yang saya sebutkan sebelumnya.
‘Khawaarij ‘alad-du’aat’ dalam artian tegas terhadap duat pembawa fitnah, itu benar – meski kedengarannya tetap wagu. Namun slogan ini jika dikatakan untuk menyumpal mulut agar tidak membicarakan penyimpangan dan lalu mentoleransinya, dikhawatirkan itu masuk dalam warning yang ditegaskan Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
Anyway, saya sepakat tahdzir harus didasarkan ilmu dan sikap wara’ dalam agama. Harus dilandasi keikhlasan dan tidak boleh serampangan.
Terakhir, saya menasihati diri saya sendiri dan juga Pembaca semuanya agar senantiasa berhati-hati dengan paham Murji’ah Gaya Baru di atas. Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalan yang lurus.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – tengah malam lebih – 20071438 - baca juga artikel : Murji'ah Ma'al-Hukkaam]
[banyak mengambil faedah dari buku Al-Mahajjatul-Baidlaa’ fii Himaayatis-Sunnah Al-Gharraa’ min Zallaati Ahlil-Akhthaa wa Zaighi Ahlil-Ahwaa’ oleh Asy-Syaikh Rabii’ Al-Madkhaliy, Daarul-Minhaaj, Cet. 2/1416; dan Murji’atul-‘Ashr oleh Dr. Khaalid Al-‘Anbariy, Daarul-Minhaaj, Cet. Thn. 1424].




[1]    Yaitu QS. At-Taubah ayat 73 dan QS. At-Tahriim ayat 9.
[2]    Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2485 secara maushuul dari Sa’iid, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
[3]    Sebagian mereka (atau sebagian besar ?) tiba-tiba sembuh sakit giginya jika ada yang bicara tentang Salafiyyiin. Suara katak di musim hujan pun sahut menyahut.
They (Salafees) are their common enemies. The enemy of their enemy is their friend.

Comments

Unknown mengatakan...

Mohon ijin share...
جزاك الله خيرا كثيرا

Annisaumar Alfaruq mengatakan...

بارك الله في علمك ياأستاذ

Sugeng Ibnu Ahmad mengatakan...

Alhamdulillaah artikel yg bermanfaat.
Tanya, sebetulnya siapa pencetus pertama kalimat Murji'ah ma'al hukkam, Khawarij 'alad du'aat?

abu.luqman mengatakan...

Pas jika saya cocok2 kan dengan tulisan2 M.A.T di status FB nya..

Wiwib mengatakan...

@abu.luqman : siapa ya akhi,yang antum maksud? biar kita juga tahu

rofi hidayatullah mengatakan...

@ Wiwib
mungkin maksudnya Ustadz Abu Rumaysho Muhammad 'Abduh Tuasikal

Anonim mengatakan...

Maheer At Tuwailib

Anonim mengatakan...

@rofi hidayatullah :

Bukan ustadz abduh tapi ahat itu maksudnya

Wiwib mengatakan...

@Anonim 19 April 2017 07.00 :
jazakumullahu khairan.

Anonim mengatakan...

Nih ustadz, ada tanggapan buat antum dari ustadz Adi Hidayat : https://youtu.be/isq35H-u-aU

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih,.... silakan bandingkan sendiri antara video di atas dengan kutipan-kutipan yang ada di Sebuah Masukan (1) :

Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah dalam satu rekaman video yang berjudul Memahami Takdir Allah dengan Benar, membacakan sebuah pertanyaan:

"Apakah semua orang telah ditetapkan taqdirnya oleh Allah subhaanahu wa ta'ala, dan apakah orang kafir itu sudah taqdir Allah ?".

Kemudian direspon:

"Pertama begini, antum pahami dulu apa itu taqdir. Taqdir itu pilihan hidup. Yang pilihan kita itu KEMUDIAN DITETAPKAN oleh Allah subhaanahu wa ta'ala. Jadi Anda bisa terbuka, ingin mengambil atau tidak. Itu pilihan Anda. Karena itu manusia diberikan kemampuan untuk memilih......dst. (kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang menguatkan itu yang intinya manusia diberikan pilihan antara yang positif dan negatif)......”

Dalam rekaman video yang berjudul Perbedaan Takdir dan Qodarullah, awal ceramah (menit 00:24) beliau mengatakan :

“yang seperti ini, seperti aliran Qadariyyah[3]. Semua terserah Allah. Semua terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum kecuali saya berkehendak. Tapi kesimpulannya salah. Anda harus bedakan antara Qadar dan Taqdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalamnya, itu disebut Qadar”

Kemudian beliau hafidhahullah mencontohkan qadar adalah ajal dan rizki. Selanjutnya beliau berkata (menit 01:23):

“Tapi, ada sesuatu yang disebut dengan taqdir. Taqdir itu adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan/ditetapkan berdasarkan ikhtiyar makhluk. Kita ikhtiyar dulu, BARU ALLAH MENETAPKAN. Jadi bukan seketika Allah tetapkan. Contoh, perbuatan itu takdir. Amal baik atau buruk, amal shalih atau salah, maka itu adalah taqdir, bukan qadar……dst.”.

Juga dalam artikel yang saya tulis berjudul Kebaikan dan Kejelekan Terjadi atas Takdir (Qadar) Allah:

Dikatakan dalam satu rekaman berdurasi 2 jam 18 menit (mulai menit 01:24:30):

Terakhir, watu’mina bil-qadari. Dan Anda yakin dengan qadar Allah. Khairihi wa syarrihi. Baik pada hal yang menyenangkan, atau hal yang Anda duga tidak menyenangkan. Thayyib, qadar. Bapak dan ibu sekalian, ada perbedaan antara takdir dengan qadar. Itu beda. Dan terkait iman itu, yang dibicarakan bukan takdir. Tapi qadar. Bahkan nanti ada tambahan qadlaa’. Saya bahas qadar dengan takdir dulu ya. Apa perbedaan keduanya ?. ………

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Kemudian dilanjutkan saat menjelaskan hadits Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu (menit 01:31:27 – 01:35:16):

“Bikatbi rizqihi, ditetapkanlah rizkinya. Apa itu rizki…halo…gak usah ngarang ya, nanti kita jelaskan. Pelajaran mengarang hanya ada dalam Bahasa Indonesia. Wa ajalihi. Ajalnya. Tiga, wa ‘amalihi, perbuatannya. Perilakunya. Dan keempat, a sa’iidun huwa au syaqiyyun, bahagia atau sengsaranya. Bahagia atau sengsaranya. Thayyib, saya jabarkan dulu ini. Dua pertama, masih ingat dua pertama tadi apa ? Satu rizki, kedua ajal. Ini yang disebut qadar. Ini qadar namanya. Dua terakhir, perbuatan. Satu lagi apa ? bahagia atau sengsara, itu yang disebut dengan takdir. Maka ini ditetapkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala sebelum kita terlahir. Jadi ada qadar ada takdir. Diungkapkan keduanya dengan kata kerja : qaddara. Di surah Al-A’laa di ayat yang ketiga. Sabbihisma rabbikal-a’laa. Alladzii khalaqa fasawwaa. Walladzii qaddara fahadaa. Jelas sampai sini ?....... Qadar adalah ketetapan Allah pada setiap hamba yang dikukuhkan sejak dalam masa kandungan dan tidak akan berubah sampai wafat menghadap Allah subhaanahu wa ta’ala. Dan tidak akan berubah sampai wafat menghadap Allah subhaanahu wa ta’ala. Itu qadar. Jadi Anda walaupun terus berdoa, untuk merubah qadar tidak akan mungkin berubah, walaupun sampai menangis darah minta bantuan sana sini, tidak bisa berubah. Itu qadar. Takdir adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan berdasarkan ikhtiyar makhluk. Jadi ada usaha dulu di sini. Itu takdir. Jadi kalau qadar, tidak ada peran ikhtiyar. Anda berikhtiyar pun tidak akan merubah qadar. Akan tetapi kalau takdir akan ditentukan oleh ikhtiyar kita. Jadi begitu Allah berikan dua jalan, ini ya, kerjakan ini resikonya begini, kerjakan ini gambarannya seperti ini. Lalu Anda memilih. Ketika Anda memilih kemudian, Anda memilih itu, di situ Allah tetapkan takdirnya. Jelas ?. Sekarang, kita mulai dengan qadar….

[selesai].

Dalam rekaman lain dikatakan (mulai menit 0:12):

“Yang ditanyakan adalah jodoh itu termasuk qadlaa’ atau takdir. Saya tidak menerangkan masalah qadlaa’. Saya menerangkan masalah qadar dan takdir. Karena ada qadlaa’, ada qadar, ada takdir. Ada qadlaa’, ada qadar, ada takdir. Yang saya maksudkan kemarin yaitu qadar. Qadar itu adalah ketetapan yang telah diberikan oleh Allah sebelum kita terlahir ke muka bumi ini dan tidak bisa diintervensi, tidak akan berubah sampai kita wafat. Jadi ibu sampai nangis darah, bikin status sampai jutaan kali untuk merubah itu, tidak akan pernah berubah. Diantaranya ada dua, satu rizki, kedua ajal. Sedangkan takdir adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan atas ikhtiyar makhluk. Jadi ada usaha kita dulu. Usaha, baru Allah tetapkan. Diantaranya ada dua juga. Satu, perbuatan kita, apakah baik ataukah buruk, kembali pada ikhtiyaar kita…..”

[selesai].

Dalam rekaman lain dikatakan saat membahas ‘takdir’ (mulai menit 02:37):

Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlak di situ. Kehendak Allah bergantung pada ikhtiyaar yang kita kerjakan. Dan di situlah terletak antara pahala dengan dosa. Saking sayangnya Allah pada hamba, Allah menginginkan hamba-Nya tidak salah pilih. Maka diberikanlah hidayah supaya mengarahkan pada pilihan yang tepat……”

--------------

Saya sudah mendengarkan video ustadz Adi Hidayat yang versi panjang dan versi pendek terkait pembahasan masalah qadar yang semuanya mempunyai benang merah yang sama. Semoga saja bisa jujur dengan apa yang dikatakan sendiri, bukan sekedar apologi 'merendah untuk meninggi'. Tapi alhamdulillah apabila kritikan yang diberikan membuat beliau tersadar dan menarik kembali apa yang sudah diedarkan. Saya pribadi tidak butuh pengakuan. Apa yang ditulis saya kira telah sangat mencukupi. Alhamdulillah....

abu.luqman mengatakan...

Ustadz, mohon bantuan jawabannya. Perihal daun bidara, apa benar ada hadits yg shoheh yg menjelaskan daun bidara untuk ruqyah ?

Mohon jawabannya, jazakumullohu khoiron..

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saya tidak tahu

Aris mengatakan...

Assalamualaikum ustadz,

Afwan mau bertanya, bolehkah kita mendoakan penista agama supaya mendapat hidayah? apakah ada dalilnya? mohon dijelaskan ustadz soalnya ada teman ana yang bersikukuh bahwa mendoakan penista agama setelah nabi wafat tidak ada contohnya dari salafush salih, jazakallahu khairan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam.

Kalau pertanyaannya : apakah boleh, maka boleh saja karena tidak ada larangan dalam agama dalam hal tersebut. Berdoa apapun diperbolehkan selama substansinya tidak mengandung kemaksiatan. Mendoakan orang kafir agar mendapat hidayah diperbolehkan sebagaimana dulu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah mendoakan orang Yahudi dalam riwayat berikut:

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

Dari Abu Muusaa radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi ﷺ berharap beliau mengucapkan doa untuk mereka “yarhamukumullah (semoga Allah merahmati kalian – apabila seorang/tunggal : yarhamukallah)”. Namun beliau ﷺ mengucapkan : “yahdiikumullah wa yushlihubaalakum (semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy].

Juga pernah mendoakan Abu Jahl dan 'Umar bin Al-Khaththaab agar diberikan hidayah masuk Islam, dan Allah mengabulkan untuk 'Umar bin Al-Khaththaab:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ: بِأَبِي جَهْلٍ، أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، قَالَ: وَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ عُمَرُ.

Dari 'Umar : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah berdoa : "Ya Allah, muliakanlah Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari dua orang ini : Abu Jahl atau 'Umar bin Al-Khaththaab". Perawi berkata : "Dan ternyata yang paling dicintai (Allah) dari keduanya adalah 'Umar" [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy, dan ia berkata : Hadits hasan shahih ghariib"].

Abu Jahl dan 'Umar pada saat itu adalah orang yang sangat memusuhi Islam.

Wallaahu a'lam.