Sifat Duduk (Juluus) – 2


Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan Bagian Pertama yang membahas tentang sifat ‘Duduk’ (Juluus), dan akan saya ambilkan secara ringkas dari referensi kutub Ahlis-Sunnah.
Allah ta’ala berfirman:
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ
Kemudian Dia beristiwaa’ menuju langit” [QS. Al-Fushshilat : 11].
An-Nasaa’iy rahimahullah membuat satu bab dalam kitab As-Sunan Al-Kubraa (10/245) dengan ayat tersebut, kemudian membawakan hadits berikut:

أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، عَنِ ابْنِ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ جُرَيْجٍ، أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ، أَنَّ عَلِيًّا الأَسَدِيَّ أَخْبَرَهُ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَعْلَمَهُ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ، خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلاثًا، وَقَالَ: " سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ { 13 } وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ { 14 } ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الأَهْلِ وَالْمَالِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Sulaimaan bin Daawud, dari Ibnu Wahb, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Juraij : Bahwasannya Abuz-Zubair mengkhabarkan kepadanya: Bahwasannya ‘Aliy Al-Asadiy mengkhabarkan kepadanya : Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar memberitahukan kepadanya : Bahwasannya Rasulullah apabila berada (duduk) di atas kudanya (istiwaa ‘alaa ba’iirihi) keluar untuk safar (bepergian), maka beliau bertakbir tiga kali dan mengucapkan : “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami’ (QS. Az-Zukhruf : 13-14). Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu dalam safar kami ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridlai. Ya Allah, ringankanlah perjalanan ini kepada kami dan dekatkan jaraknya untuk kami. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam safar, pengganti dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, pandangan yang menyedihkan, dan buruknya keadaan ketika kembali, baik mengenai keluarga dan harta” [As-Sunan Al-Kubraa, 10/245-246 no. 11.402].
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa salah satu makna istiwaa’ secara bahasa adalah duduk.
حَدَّثَنِي أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلِيفَةَ، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: " إِذَا جَلَسَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى الْكُرْسِيِّ سُمِعَ لَهُ أَطِيطٌ كَأَطِيطِ الرَّحْلِ الْجَدِيدِ "
Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan, dari Sufyaan, dari Abu Ishaaq, dari ‘Abdullah bin Khaliifah, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Apabila Allah tabaaraka wa ta’ala duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara seperti suara seseorang yang baru duduk” [As-Sunnah hal. 301 no. 575].
حَدَّثَنِي أَبِي، نا وَكِيعٌ، بِحَدِيثِ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلِيفَةَ، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " إِذَا جَلَسَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْكُرْسِيِّ "
فَاقْشَعَرَّ رَجُلٌ سَمَّاهُ أَبي عِنْدَ وَكِيعٍ فَغَضِبَ وَكِيعٌ وَقَالَ: أَدْرَكْنَا الأَعْمَشَ وَسُفْيَانَ يُحَدِّثُونَ بِهَذِهِ الأَحَادِيثِ لا يُنْكِرُونَهَا
Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Wakii’ tentang hadits Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari ‘Abdullah bin Khaliifah, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Apabila Rabb ‘azza wa jalla duduk di atas kursi’.
Maka gemetaranlah seorang laki-laki - yang namanya disebutkan ayahku - di sisi Wakii’, sehingga Wakii’ marah (karenanya). Ia (Wakii’) berkata : “Kami menjumpai Al-A’masy dan Sufyaan (Ats-Tsauriy) menceritakan hadits ini tanpa ada pengingkaran terhadapnya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah hal. 302 no. 578].
‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumullah sebelum membawakan riwayat ‘Abdullah bin Khaliifah di atas berkata:
سئل عما روي في الكرسي وجلوس الرب عز وجل عليه
584 - رَأَيْتُ أَبِيَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُصَحِّحُ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ أَحَادِيثَ الرُّؤْيَةِ وَيَذْهَبُ إِلَيْهَا وَجَمَعَهَا فِي كِتَابٍ وَحَدَّثَنَا بِهَا
“Ditanyakan (kepada ayahku) tentang apa yang diriwayatkan perihal kursi dan duduknya Rabb ‘azza wa jalla di atasnya.
584. Aku melihat ayahku (Ahmad bin Hanbal) rahimahullah menshahihkan hadits-hadits ini, yaitu hadits-hadits tentang ru’yah, mengambil pendapat kepadanya, mengumpulkannya dalam kitab, dan meriwayatkannya” [As-Sunnah hal. 300].
Sebagian ulama men-ta’liil riwayat ini, dan sebagian lain menshahihkannya[1]. Namun yang benar, riwayat ini adalah mauquuf shahih (dari perkataan ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu) sebagaimana dikatakan oleh Al-Imaam Ahmad rahimahullah di atas. Meskipun mauquuf, dihukumi marfuu' karena tidak mungkin perkataan 'Umar ini datang dari ijtihadnya.
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata:
وهذا الحديث صحيح عند جماعة من المحدثين.....فإذا كان هؤلاء الأئمة: أبو إسحاق السبيعي، والثوري، والأعمش، وإسرائيل، وعبد الرحمن بن مهدي، وأبو أحمد الزبيري، ووكيع، وأحمد بن حنبل، وغيرهم ممن يطول ذكرهم وعددهم الذين هم سُرُج الهدى ومصابيح الدجى قد تلقوا هذا الحديث بالقبول وحدثوا به، ولم ينكروه، ولم يطعنوا في إسناده، فمن نحن حتى ننكره ونتحذلق عليهم؟، بل نؤمن به ونكل علمه إلى الله عز وجل
“Hadits ini shahih menurut sekelompok ahli hadits…… Apabila para imam seperti Abu Ishaaq As-Sabii’iy, Ats-Tsauriy, Al-A’masy, Israaiil, ‘Abdurrahman bin Mahdiy, Abu Ahmad Az-Zubairiy, Wakii’, Ahmad bin Hanbal, dan lainnya yang jumlahnya banyak, yang mereka itu adalah penerangan yang memberikan petunjuk serta pelita bagi kegelapan; mereka mendapatkankan hadits ini dengan penuh penerimaan, meriwayatkannya tanpa ada pengingkaran, serta tidak pula mereka mencela sanadnya, maka siapakah diri kita hingga kita (berani) mengingkarinya dan menyusahkan diri terhadapnya ?. Bahkan kita harus mengimaninya dan menyerahkan ilmunya[2] kepada Allah ‘azza wa jalla” [Al-‘Arsy, 2/121-122].
Allah ta’ala berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy” [QS. Thaha : 4].
Tentang ayat tersebut, terdapat beberapa riwayat tentang penafsiran istiwaa’ sebagai berikut:
قال الخلال: أخبرنا أبو بكر المروذي قال: سمعت عبدالوهاب يقول: { الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى } قال: قعد
Telah berkata Al-Khallaal : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ia berkata : Aku mendengar ‘Abdul-Wahhaab tentang firman Allah : ‘Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 4), ia berkata : “Duduk” [Dibawakan oleh Ad-Dasytiy Al-Hanbaliy dalam Itsbaatil-Hadd lillaah hal. 180 no. 50 dan Ibnu Taimiyyah dalam Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah 1/435].
Tentang ‘Abdul-Wahhaab (Al-Warraaq), Al-Fath bin Abil-Fath pernah bertanya kepada Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumallah ketika sakit:
مَنْ نَسْأَلُ بَعْدَكَ؟
“Siapakah yang layak kami tanyai setelah engkau wafat?”.
Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab:
سَلْ عَبْدَ الْوَهَّابِ
“Bertanyalah kepada ‘Abdul-Wahhaab” [Diriwayatkan oleh Al-Marwadziy dalam Az-Zuhd no. 3 – baca juga referensi : https://goo.gl/vHOZgh].
ثَنَا مُوسَى، ثَنَا رَوحُ بنُ عُبَادَةَ، عن حَمَّاد بن سَلَمَة، عَن عَطَاء بن السائب، عن الشعبي عن عبد الله [رَضِيَ اللهُ عَنْهُ] أَنَّهُ قَالَ : (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)، فَقَالَ : جَالِس
Telah menceritakan kepada kami Muusaa : Telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubaadah, dari Hammaad bin Salamah, dari ‘Athaa’ bin As-Saaib, dari Asy-Sya’biy, dari ‘Abdullah, tentang firman-Nya : ‘Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 4), ia berkata : “Duduk” [Diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Ma’bad dalam Ar-Ru’yah sebagaimana dibawakan oleh Ad-Dasytiy Al-Hanbaliy dalam Itsbaatil-Hadd lillaah hal. 173 no. 47].
Hammaad bin Salamah seorang yang tsiqah lagi ahli ibadah. Hanya saja ia berubah hapalannya di akhir usianya. Tidak diketahui kapan Rauh bin ‘Ubaadah mengambil riwayat darinya, sebelum ataukah setelah masa ikhtilath-nya. Namun Muslim mengambil riwayat Rauh dari Hammaad bin Salamah dalam kitab Shahiih-nya. Periwayatan ‘Aamir Asy-Sya’biy dari ‘Abdullah bin Mas’uud adalah mursal sebagaimana dijelaskan oleh Al-‘Alaaiy, dan Asy-Sya’biy tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang tsiqah sebagaimana dikatakan Yahyaa bin Ma’iin[3].
حدثنا محمد بن حاتم، ثنا الفضل بن عباس، ثنا عبد الرحمن بن ثابت، عن يزيد بن هارون، عن عباد بن منصور، قال: سألت الحسن وعكرمة، عن قوله { الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}، قالا: جالس
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haatim[4] : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin ‘Abbaas[5] : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Tsaabit[6], dari Yaziid bin Haaruun[7], dari ‘Abbaad bin Manshuur[8], ia berkata : Aku bertanya kepada Al-Hasan dan ‘Ikrimah tentang firman-Nya ta’ala : ‘Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 4), mereka berdua berkata : “Duduk” [Diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Ma’bad dalam Ar-Ru’yah sebagaimana dibawakan oleh Ad-Dasytiy Al-Hanbaliy dalam Itsbaatil-Hadd lillaah hal. 174 no. 48 dan Fathul-Hamiid fii Syarh Kitaabit-Tauhiid hal. 1675].
Riwayat ini lemah karena faktor ‘Abbaad bin Manshuur An-Naajiy.
Abu Muusaa Al-Madiiniy rahimahullah berkata:
سألتُ أبا القاسم إسماعيل بن محمد يومًا، وقلت له: أليس قد رُوي عن ابن عباس في قوله تعالى: اسْتَوَى، قعد؟، قال: نعم.
Aku pernah bertanya kepada Abul-Qaasim Ismaa’iil bin Muhammad pada suatu hari. Aku katakan kepadanya : “Bukankah telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman-Nya ta’ala : ‘istiwaa’ , yaitu duduk ?”. Ia menjawab : “Ya benar” [Taariikhul-Islaam oleh Adz-Dzahabiy].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
واذا كان قعود الميت فى قبره ليس هو مثل قعود البدن فما جاءت به الآثار عن النبى من لفظ القعود والجلوس فى حق الله تعالى كحديث جعفر بن أبى طالب رضى الله عنه وحديث عمر بن الخطاب رضى الله عنه وغيرهما أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد
“Apabila duduknya mayit di kuburnya bukan seperti duduknya badan, maka yang terdapat dalam atsar-atsar dari Nabi tentang lafadh qu’uud dan juluus (duduk) dari hak Allah ta’ala – seperti hadits Ja’far bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, hadits ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu, dan yang lainnya – lebih layak untuk tidak dibawa (kepada pemahaman) sifat badan manusia” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 5/527].
Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Naashir As-Sa’diy rahimahullah berkata:
 فكذلك نثبت أنّه استوى على عرشه استواء يليق بجلاله سواء فُسِّر ذلك بالإرتفاع أو بعلوّه على عرشه ، أو بالإستقرار أو بالجلوس .فهذه التّفاسير واردة عن السلف
“Begitu pula kita menetapkan bahwa Allah ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya yang layak dengan keagungan-Nya. Sama saja apakah itu ditafsirkan dengan irtifaa’ atau dengan ketinggiannya di atas ‘Arsy-Nya, atau dengan istiqraar, atau dengan juluus (duduk). Berbagai penafsiran ini semuanya datang dari salaf…..” [Al-Ajwibatus-Sa’diyyah ‘anil-Masaailil-Kuwaitiyyah, hal. 147].
Kesimpulan : Duduk adalah salah satu makna dari kata istiwaa’, dan ini merupakan sifat yang ada pada Allah ta’ala.
Wallaahu a’lam.
Abul-Jauzaa’ – sore yang gelap di seberang lautan, 17032017




[1]      Beberapa ulama men-ta’liil riwayat ini, diantaranya Ad-Daaraquthniy, Ibnu Khuzaimah, Al-Ismaa’iiliy, Ibnul-Jauziy, Ibnu Katsiir, Al-Albaaniy, dan yang lainnya. Ta’liil tersebut dengan sebab:
a.  Idlthiraab
Sebagian diriwayatkan secara mauquuf, marfuu’, dan mursal (tanpa penyebutan ‘Umar), yang semuanya berporos pada Abu Ishaaq, dari ‘Abdullah bin Khaliifah. Sufyaan Ats-Tsauriy dan Syu’bah[1] secara mauquuf, sedangkan Israaiil bin Abi Ishaaq meriwayatkan secara marfuu’, mursal, dan mauquuf. Satu riwayat dihukumi idllthiraab apabila tidak dapat dilakukan tarjiih, sedangkan tarjiih di sini sangat memungkinkan untuk dilakukan. Riwayat mauquuf yang dibawakan Sufyaan dan Syu’bah jauh lebih kuat daripada riwayat Israaiil yang padanya terdapat perselisihan. Oleh karena itu, yang mahfuudh dalam riwayat Abu Ishaaq, dari ‘Abdullah bin Khaliifah, dari ‘Umar adalah mauquuf.
b.  Majhuul-nya ‘Abdullah bin Khaliifah
Ini tidak valid dengan alasan:
i.      Riwayat ‘Abdullah bin Khaliifah telah dishahihkan oleh Ahmad bin Hanbal sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah. Ditetapkan juga oleh Wakii’, Al-A’masy, dan Sufyaan.
Penshahihan terhadap riwayat (dengan sanadnya) ekuivalen dengan penshahihan (tautsiq) terhadap para perawinya.
ii.     ‘Abdullah bin Khaliifah adalah seorang yang dlaabith dalam periwayatan, diantaranya ditunjukkan dengan dua riwayat berikut:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلِيفَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ انْقَطَعَ شِسْعُهُ فَاسْتَرْجَعَ، وَقَالَ: " كُلُّ مَا سَاءَكَ مُصِيبَةٌ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Abu Ishaaq, dari ‘Abdullah bin Khaliifah, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab : Bahwasannya tali sandalnya pernah putus, lalu ia ber-istirjaa’ (mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun – Abul-Jauzaa’), dan mengatakan : “Semua hal yang menyusahkanmu adalah musibah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 27063 dan darinya ‘Abdullah bin Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1211].
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا شَيْبَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، قَالَ: انْقَطَعَ قُبَالُ عُمَرَ، فَقَالَ: " إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ "، فَقَالُوا: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَفِي قُبَالِ نَعْلِكَ؟ قَالَ: " نَعَمْ، كُلُّ شَيْءٍ أَصَابَ الْمُؤْمِنَ يَكْرَهُهُ فَهُوَ مُصِيبَةٌ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Muusaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syaibaan, dari Manshuur, dari Mujaahid, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, ia berkata : “Tali sandal ‘Umar pernah putus, lalu ia mengucapkan : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Orang-orang berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, apakah (ucapan istirjaa’ itu) disebabkan karena tali sandalmu (yang putus) ?”. Ia (‘Umar) berkata : “Ya, semua hal yang menimpa seorang mukmin yang ia tidak menyukainya, maka itu adalah musibah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 27064].
Riwayat ‘Abdullah bin Khaliifah berkesesuaian dengan riwayat Ibnul-Musayyib – dan ia seorang imam yang tsiqah lagi tsabt – sehingga ini menunjukkan sifat dlabth darinya.
iii.   Terputusnya riwayat ‘Abdullah bin Khaliifah dari ‘Umar.
Hal ini sebagaimana dikatakan Ibnu Katsiir yang mengatakan periwayatan ‘Abdullah bin Khaliifah dari ‘Umar perlu diteliti kembali. Ta’liil Ibnu Katsiir ini tidak benar, karena telah shahih pertemuan ‘Abdullah bin Khaliifah dengan ‘Umar, dan kemudian meriwayatkan darinya sebagaimana riwayat:
حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلِيفَةَ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ عُمَرَ فِي جِنَازَةٍ فَانْقَطَعَ شِسْعُهُ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ: " كُلُّ مَا سَاءَكَ مُصِيبَةٌ "
Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari Abu Ishaaq, dari ‘Abdullah bin Khaliifah, ia berkata : Aku pernah bersama ‘Umar dalam pemakaman seorang jenazah. Tali sandalnya putus, lalu ia ber-istirjaa’ dan kemudian berkata : “Semua hal yang menyusahkanmu adalah musibah” [Diriwayatkan oleh Hanaad bin As-Sariy dalam Az-Zuhd no. 423].
Selain itu, ‘Abdullah bin Khaliifah adalah seorang kibaarut-taabi’iin yang berstatus mukhdlaram (= orang yang pernah hidup pada masa jahiliyyah dan kemudian masuk Islam, namun tidak pernah bertemu dengan Nabi ). Tentu saja hal ini sangat memungkinkan bagi dirinya untuk bertemu dengan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu.
Tulisan ini sekaligus merupakan koreksi atas komentar saya dalam Blog ini beberapa waktu lalu, wal-‘ilmu ‘indallah…..
[2]      Yaitu tentang kaifiyat-nya.
[3]      Hanya saja ia (Asy-Sya’biy) meriwayatkan dari Al-Haarits Al-A’war yang dikritik banyak ulama, dan ini merupakan satu aib dalam periwayatannya.
[4]      Muhammad bin Haatim bin Yuunus Al-Jarjaraaiy Al-Mishiishiy, Abu Ja’far Al-‘Aabid, seorang yang tsiqah. Wafat tahun 225 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 834 no. 5832].
[5]      Al-Fadhl bin ‘Abbaas Al-Baghdaadiy, seorang yang tsiqah [idem, hal. 783 no. 5441].
[6]      ‘Abdurrahmaan bin Tsaabit bin Tsaubaan Al-‘Ansiy, Abu ‘Abdillah Asy-Syaamiy Ad-Dimasyqiy Az-Zaahid; seorang yang shaduuq hasanul-hadiits. Lahir tahun 75 H dan meninggal tahun 165 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 572 no. 3844, Man Tukullima fiihi Wahuwa Muwatstsaqun au Shaalihul-Hadiits oleh Adz-Dzahabiy hal. 324-325 no. 206, dan Tahriirut-Taqriib, 2/309-310 no. 3820].
Catatan :
Perkataan Abu Haatim rahimahullah :
و تغير عقله فى آخر حياته ، و هو مستقيم الحديث
“Berubah akalnya di akhir kehidupannya, namun ia adalah seorang yang mustaqiimul-hadiits” [Tahdziibut-Tahdziib, 6/151].
Perkataan ini tidak mengandung konsekuensi haditsnya ditolak dengan sebab ikhtilaath, kareba Abu Haatim sendiri melanjutkan : ‘hawuwa mustaqiimul-hadiits’. Artinya, ikhtilaath-nya tersebut tidak mempengaruhi hadits yang disampaikannya. Di tempat lain ia sendiri mengatakan : “Tsiqah”.
[7]      Yaziid bin Haaruun bin Zaadzaan As-Sulamiy, Abu Khaalid Al-Waasithiy; seorang yang tsiqah, mutqin, lagi ahli ibadah. Meninggal tahun 206 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1084 no. 7842].
[8]      ‘Abbaad bin Manshuur An-Naajiy, seorang yang dla’iif, berubah hapalan di akhir usianya [Tahriirut-Taqriib, 2/180-181 no. 3142].

Comments

Ibnu Husein mengatakan...

Ust adakah Ulama Ahlussunnah yg menolak makna Istiwa dgn Duduk??