Menshalati Jenazah Orang Munafik


Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), dan janganlah kamu berdiri untuk mendoakan di kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” [QS. At Taubah: 84].
Terkait dengan ayat ini, ada sababun-nuzuul ayat sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، وَصَلِّ عَلَيْهِ، وَاسْتَغْفِرْ لَهُ، فَأَعْطَاهُ قَمِيصَهُ، وَقَالَ: إِذَا فَرَغْتَ مِنْهُ فَآذِنَّا، فَلَمَّا فَرَغَ آذَنَهُ بِهِ، فَجَاءَ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهِ، فَجَذَبَهُ عُمَرُ، فَقَالَ: أَلَيْسَ قَدْ نَهَاكَ اللَّهُ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ، فَقَالَ: اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ فَنَزَلَتْ وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ فَتَرَكَ الصَّلَاةَ عَلَيْهِمْ "

Dari ‘Abdullah (bin ‘Umar), ia berkata : Ketika ‘Abdullah bin Ubay meninggal, anaknya mendatangi Rasulullah lalu berkata : “Wahai Rasulullah, berikanlah bajumu untuk mengkafaninya, shalatilah ia, dan mohonkanlah ampun kepadanya”. Maka beliau memberikan bajunya seraya bersabda : “Apabila engkau telah selesai mengurusnya, maka beritahukanlah kami”. Ketika telah selesai mengurus (jenazah ayahnya), maka ia memberitahukan kepada beliau . Beliau pun datang untuk menyalatkannya. (Melihat itu) ‘Umar menarik beliau lalu berkata : “Bukankah Allah telah melarangmu untuk menyalati orang-orang munafik ?”. Beliau membaca ayat : “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka” (QS. At-Taubah : 80). Maka turunlah ayat : “Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), dan janganlah kamu berdiri untuk mendoakan di kuburnya” (QS. At-Taubah : 84). Maka beliau meninggalkan shalat untuk mereka (orang-orang munafik) [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5796].
Ayat ini sebagai dalil larangan menyalatkan orang-orang munafik tulen semisal ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul. Ibnu Saluul ini adalah orang munafik tulen yang menampakkan keislaman namun menyimpan kebencian dan permusuhan kepada Islam dan orang-orangnya. Jenis nifaq yang diderita pesakitan ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul ini adalah nifaq akbar atau nifaq i’tiqadiy yang mengeluarkan subjeknya dari wilayah Islam, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS. At-Taubah ayat 84 :
إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”.
Ibnu Katsiir rahimahullah menjelaskan:
أمر الله تعالى رسوله صلى الله عليه وسلم أن يَبْرَأ من المنافقين، وألا يصلي على أحد منهم إذا مات، وألا يقوم على قبره ليستغفر له أو يدعو له؛ لأنهم كفروا بالله ورسوله، وماتوا عليه. وهذا حكم عام في كل من عرف نفاقه، وإن كان سبب نزول الآية في عبد الله بن أُبَيّ بن سلول رأس المنافقين
“Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk membebaskan diri dari orang-orang munafik, tidak menyalati seorang pun dari mereka apabila meninggal, dan tidak berdiri di atas kuburnya untuk memintakan ampunan kepadanya atau mendoakannya. Hal itu dikarenakan mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan meninggal di atas kekafiran itu. Ini adalah hukum umum bagi siapa saja yang diketahui kemunafikannya, meskipun sebab turunnya ayat ini terkait ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul, pemimpin orang-orang munafik” [Tafsiir Ibni Katsiir, 4/192-193].
Larangan mendoakan dan memintakan ampunan (dan itu merupakan substansi dalam shalat jenazah) adalah larangan yang ditujukan untuk objek orang kafir.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ ﷺ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: " اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ "
Dari Abu Hurairah, ia berkata : “(pada suatu waktu) Nabi berziarah ke kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang di sekitar beliau pun ikut menangis. Beliau bersabda : “Sesungguhnya aku telah memohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampun untuknya, namun Ia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin-Nya untuk menziarahi kuburnya, dan Ia mengizinkanku. Maka berziarahlah kalian ke kubur, karena itu akan mengingatkan kalian kepada kematian[Diriwayatkan oleh Muslim no. 976].
An-Nawawiy rahimahullah berkata tentang hadits di atas:
فِيهِ جَوَاز زِيَارَة الْمُشْرِكِينَ فِي الْحَيَاة ، وَقُبُورهمْ بَعْد الْوَفَاة ؛ لِأَنَّهُ إِذَا جَازَتْ زِيَارَتهمْ بَعْد الْوَفَاة فَفِي الْحَيَاة أَوْلَى ، وَقَدْ قَالَ اللَّه تَعَالَى : { وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا } وَفِيهِ : النَّهْي عَنْ الِاسْتِغْفَار لِلْكُفَّارِ . قَالَ الْقَاضِي عِيَاض رَحِمَهُ اللَّه : سَبَب زِيَارَته صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرهَا أَنَّهُ قَصَدَ قُوَّة الْمَوْعِظَة وَالذِّكْرَى بِمُشَاهَدَةِ قَبْرهَا ، وَيُؤَيِّدهُ قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِر الْحَدِيث : ( فَزُورُوا الْقُبُور فَإِنَّهَا تُذَكِّركُمْ الْمَوْت ) .
“Dalam hadits tersebut terdapat penjelasan tentang kebolehan untuk menziarahi orang-orang musyrik saat masih hidup, dan menziarahi kubur mereka setelah meninggal. Hal itu dikarenakan apabila diperbolehkan untuk menziarahi mereka setelah meninggal, maka ketika hidup lebih layak untuk kebolehannya. Allah ta’ala telah berfirman: ‘Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik’ (QS. Luqmaan : 15).
Dalam hadits tersebut juga terdapat penjelasan tentang larangan untuk memintakan ampun kepada orang-orang kafir. Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullah berkata : ‘Faktor penyebab ziarahnya Nabi ke kubur ibunya yaitu karena beliau ingin menguatkan nasihat dan peringatan dengan mengunjungi kuburnya’. Hal tersebut dikuatkan dengan sabda beliau yang ada di akhir hadits : ‘Berziarahlah kalian ke kubur, karena itu akan mengingatkan kalian kepada kematian” [Syarh Shahih Muslim, 7/45].[1]
Nabi tetap menyalatkan ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul karena beliau melihat kepada dhahir keislamannya, meskipun di masa hidupnya ia (Ibnu Saluul) melakukan berbagai hal yang merugikan Islam dan kaum muslimin. Kemaksiatan yang dilakukannya belum cukup memastikannya keluar dari wilayah Islam. Kekufurannya tersembunyi dari beliau sebelum Allah ta’ala mengkhabarkan tentang dirinya melalui ayat.
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata:
وقال بعض العلماء : إنما صلى النبي صلى الله عليه وسلم على عبد الله بن أبي بناء على الظاهر من لفظ إسلامه . ثم لم يكن يفعل ذلك لما نهي عنه
“Sebagian ulama berkata : Nabi menyalatkan ‘Abdullah bin Ubay hanyalah berdasarkan apa yang nampak dari ucapan (pengakuan) keislamannya. Kemudian beliau tidak melakukannya ketika dilarang Allah darinya” [Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan, 8/219].
Ibnul-Jauziy rahimahullah berkata:
أنه إنما استغفر لقوم منهم على ظاهر إِسلامهم من غير أن يتحقق خروجهم عن الإسلام ، ولا يجوز أن يقال : علم كفرهم ثم استغفر
“Nabi hanyalah memohonkan ampunan untuk satu kaum dari mereka berdasarkan atas dhahir keislamannya (yang nampak) tanpa dapat memastikan keluarnya mereka dari Islam. Tidak boleh untuk dikatakan : beliau mengetahui kekufuran mereka, lalu memintakan ampunan (kepada Allah untuk mereka)” [Zaadul-Masiir, 3/211].
Allah ta’ala berfirman:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar” [QS. At-Taubah : 101].
Sebagian shahabat pun ada yang menganggapnya muslim seperti kaum Muhajirin dan Anshaar. Diantaranya adalah Usaamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu:
عَنْ عُرْوَة بْن الزُّبَيْرِ، أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ، : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَكِبَ عَلَى حِمَارٍ عَلَيْهِ قَطِيفَةٌ فَدَكِيَّةٌ وَأُسَامَةُ وَرَاءَهُ يَعُودُ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فِي بَنِي حَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ قَبْلَ وَقْعَةِ بَدْرٍ، فَسَارَا حَتَّى مَرَّا بِمَجْلِسٍ فِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ، وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، فَإِذَا فِي الْمَجْلِسِ أَخْلَاطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَالْيَهُودِ.....
Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasannya Usaamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhumaa mengkhabarkan kepadanya : Rasulullah pernah menunggangi seekor keledai yang di atasnya beralaskan (pelana) beludru Fadak – dan Usaamah membonceng di belakang beliau - untuk mengunjungi Sa’d bin ‘Ubaadah di (kampung) Bani Haarits bin Khazraj sebelum peristiwa (perang) Badr. Mereka berdua berjalan hingga melewati majelis yang padanya terdapat ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul. Itu terjadi sebelum ‘Abdullah bin Ubay masuk Islam.[2] Di majelis tersebut bercampur baur dari kalangan kaum muslimin, orang-orang musyrik penyembah berhala, dan orang Yahudi…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4566].
So, makar apa gerangan yang telah dibuat oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul terhadap Islam dan kaum muslimin ?. Diantaranya:
1.    Menyebarkan berita bohong (haditsul-ifki) bahwa ‘Aaisyah Ummul-Mukminiin telah berzina
قَالَتْ: فَهَلَكَ مَنْ هَلَكَ وَكَانَ الَّذِي تَوَلَّى كِبْرَ الْإِفْكِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ، قَالَ عُرْوَةُ: أُخْبِرْتُ أَنَّهُ كَانَ يُشَاعُ وَيُتَحَدَّثُ بِهِ عِنْدَهُ فَيُقِرُّهُ وَيَسْتَمِعُهُ وَيَسْتَوْشِيهِ
‘Aaisyah berkata : “Maka binasalah orang yang binasa." Dan orang yang berperan besar menyebarkan berita bohong ini adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul[3]. 'Urwah berkata : Dikhabarkan kepadaku bahwa ia (‘Abdullah bin Ubay bin Saluul) menyebarkan berita bohong itu, menceritakannya, membenarkannya, dan menyampaikannya kepada orang-orang sambil menambah-nambahinya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4141].
2.    Tidak mau menolong kaum muslimin dan ingin mengusir mereka dari Madiinah
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " كُنْتُ مَعَ عَمِّي، فَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ ابْنَ سَلُولَ، يَقُولُ: لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا، وَقَالَ أَيْضًا: لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ
Dari Zaid bin Arqam radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah bersama pamanku, lalu aku mendengar ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul berkata : ‘Janganlah kamu menginfakkan harta kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)’ (QS. Al-Munaafiquun : 7)’. Ia juga berkata : ‘Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya’ (QS. Al-Munaafiquun : 8)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4901].
Perkataan Ibnu Saluul tersebut sampai kepada Nabi hingga kemudian turun QS. Al-Munaafiquun ayat 1-8.
3.    Menyuruh berbuat kekejian
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ، يَقُولُ لِجَارِيَةٍ لَهُ " اذْهَبِي فَابْغِينَا شَيْئًا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ لَهُنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ "
Dari Jaabir, ia berkata : Dahulu ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul berkata kepada budak perempuannya : “Pergilah dan melacurlah untuk kami”. Maka Allah 'azza wa jalla menurunkan ayat : "Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu (An Nuur: 33)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 3029].
4.    Dan yang lainnya.
Makar ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul dan teman-temannya bukan sesuatu yang remeh. Namun demikian, Nabi tetap menyalatkan Ibnu Saluul dengan sebab dhahir keislamannya. Bahkan setelah ‘Umar mengingatkan beliau tentang kemunafikannya.
Kembali kepada tema/judul, apa hukum menyalatkan orang munafik ? Satu pertanyaan pernah dilontarkan kepada Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
إذا عرف أن الميت منافق فهل يصلى عليه؟
“Apabila dikenali bahwa si mayit adalah munafik, apakah wajib menyalatkannya ?”.
Beliau rahimahullah menjawab:
لا يصلى عليه؛ لقوله تعالى: وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا، إذا كان نفاقه ظاهراً، أما إذا كان ذلك مجرد تهمة فإنه يصلى عليه؛ لأن الأصل وجوب الصلاة على الميت المسلم فلا يترك الواجب بالشك
“Ia tidak dishalati berdasarkan firman Allah ta’ala : ‘Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik)’ (QS. At-Taubah : 84), (yaitu) apabila kemunafikannya nampak jelas. Namun apabila kemunafikannya hanya sekedar tuduhan saja, maka ia tetap (wajib) dishalati, karena pada asalnya adalah wajib menyalati mayit muslim sehingga tidak boleh meninggalkan yang wajib hanya berdasarkan keraguan” [sumber : https://goo.gl/LwsAo4].
Yang dimaksud kemunafikan yang jelas adalah kemunafikan yang mengkonsekuensikan kepada kekufuran (nifaq akbar/nifaq i’tiqadiy)[4]. Bukan sekedar melakukan perbuatan dosa, kefasikan, maksiat, dan yang semisal dari cabang-cabang kemunafikan. Sebagian orang keliru memahaminya dengan menghukumi seseorang sebagai munafik hanya sekedar perbuatan kemaksiatan yang dilakukanya secara terang-terangan nampak di mata manusia.
Nabi bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : Jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya dia berkhianat
dan dalam riwayat lain disebutkan :
وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ
Jika berselisih, maka dia akan berbuat dhalim, dan jika berjanji dia berkhianat”.
Apakah jika ada orang yang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat tersebut di atas secara terang-terangan, kita dapat sebut secara otomatis sebagai munafiq dengan kemunafikan yang jelas ala ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul yang matinya tidak boleh dishalati ?. Tentu tidak[5].
Dulu, ketika heboh kasus 'Aaisyah yang dituduh berzina oleh orang-orang munafiq, para shahabat berselisih. Sa’d bin ‘Ubaadah radliyallaahu ‘anhu membela tokoh munafiq Abdullah bin Ubaiy bin Saluul karena fanatisme kesukuan (satu suku : Khazraj) sebagaimana riwayat berikut:
فَقَامَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ الْأَنْصَارِيُّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَا أَعْذِرُكَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مِنْ الْأَوْسِ ضَرَبْتُ عُنُقَهُ، وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا مِنَ الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا أَمْرَكَ، قَالَتْ: فَقَامَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَهُوَ سَيِّدُ الْخَزْرَجِ وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ رَجُلًا صَالِحًا وَلَكِنْ احْتَمَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ، فَقَالَ لِسَعْدٍ: كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لَا تَقْتُلُهُ وَلَا تَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ، فَقَامَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ، فَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ: كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لَنَقْتُلَنَّهُ، فَإِنَّكَ مُنَافِقٌ تُجَادِلُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ، فَتَثَاوَرَ الْحَيَّانِ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ حَتَّى هَمُّوا أَنْ يَقْتَتِلُوا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّضُهُمْ حَتَّى سَكَتُوا وَسَكَتَ،
‘Aaisyah berkata : Maka berdirilah Sa’d bin Mu’aadz Al-Anshaariy dan berkata : “Wahai Rasulullah, aku memberikan pembelaan kepadamu dari orang tersebut. Seandainya ia dari suku Aus, aku sendiri yang akan menebas lehernya. Namun apabila ia berasal dari saudara kami suku Kazraj, maka perintahkanlah kami dan kami akan melaksanakannya (untuk membunuh orang tersebut)”. ‘Aaisyah berkata : Maka berdirilah Sa’d bin ‘Ubaadah - dan ia pemimpin suku Khazraj yang sebelum itu adalah orang yang shaalih, akan tetapi hari itu ia terbawa sikap fanatisme kesukuan – dan berkata : “Engkau dusta. Demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan tidak akan bisa membunuhnya”. Maka berdirilah Usaid bin Hudlair – paman Sa’d bin Mu’aadz – yang berkata kepada Sa’d bin ‘Ubaadah : “Engkau lah yang berdusta. Demi Allah, sungguh kami akan membunuhnya, karena engkau seorang munafiq yang berdebat untuk membela orang-orang munaafiq (yaitu kelompok ‘Abdullah bin Ubay)”. Suasana semakin memanas antara orang-orang dari suku Aus dan Khazraj hingga hampir saja mereka saling bunuh, padahal Rasulullah masih berdiri di atas mimbar. Rasulullah berusaha menenangkan mereka hingga mereka diam dan beliau pun diam....” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4750].
Sa'd bin 'Ubaadah keliru telah membela Ibnu Saluul gembong munafik, dan kita tidak ragu lagi atas apa yang diperbuat Ibnu Saluul sebagaimana telah lewat penyebutannya. Akan tetapi Sa’d bin ‘Ubaadah dengan kekeliruannya bukan seorang munafik meski ada shahabat yang menuduhnya munafik. Bahkan Sa’d tetap merupakan shahabat yang mulia, sayyid suku Khazraj. Nabi pernah berdoa :
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ
Ya Allah, limpahkanlah barakah dan rahmat-Mu kepada keluarga Sa’d bin ‘Ubaadah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 5185].
Begitu juga dengan Haathib bin Abi Balta'ah radliyallaahu ‘anhu yang terjatuh dalam kekeliruan membantu orang kafir Makkah dengan membocorkan rahasia kaum muslimin kepada mereka. Motif Haathib adalah ingin melindungi kerabat-kerabatnya di Makkah sebagaimana perkataannya dalam riwayat:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا، وَلَا ارْتِدَادًا، وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ
“Wahai Rasulullah, janganlah engkau terburu-buru kepadaku. Sesungguhnya aku adalah seorang anak angkat di tengah suku Quraisy, dan aku bukanlah termasuk dari kalangan mereka. Adapun kaum Muhaajirin yang bersama engkau, mereka mempunyai kerabat di Makkah yang akan melindungi keluarga dan harta mereka. Dikarenakan aku tidak punya hubungan nasab dengan mereka, aku ingin menolong mereka agar mereka pun menjaga kerabatku. Aku melakukan ini bukan karena kekafiran, murtad, ataupun ridlaa dengan kekufuran setelah Islam”[6] [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3007].
Jelas ia keliru, namun kekeliruannya tidak menyebabkan dirinya tergolong orang munafik sebarisan dengan 'Abdullah bin Ubay bin Saluul.
Penjabaran di sini bukan artinya kita tidak dapat menghukumi seseorang dengan nifaq akbar/i’tiqadiy secara dhahir. Orang munafik yang jelas kemunafikannya tetap ada dan dapat dihukumi berdasarkan qarinah-qarinah lahiriyah (yang nampak). Ini seperti riwayat:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: " قَالَ رَجُلٌ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فِي مَجْلِسٍ: مَا رَأَيْنَا مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاءِ، أَرْغَبَ بُطُونًا، وَلا أَكْذَبَ ألسنًا، وَلا أَجْبَنَ عِنْدَ اللِّقَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ فِي الْمَجْلِسِ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ، لأُخْبِرَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ ﷺ وَنَزَلَ الْقُرْآنُ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: فَأَنَا رَأَيْتُهُ مُتَعَلِّقًا بِحَقَبِ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ، تَنْكُبُهُ الْحِجَارَةُ، وَهُوَ يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ { 65 } لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ "
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Berkatalah seorang laki-laki saat perang Tabuk dalam satu majelis : “Kami tidak pernah melihat seperti para qurraa’ (pembaca Al-Qur’an) kita ini; yang paling mementingkan perut (rakus), sangat pendusta, dan penakut dalam pertempuran/peperangan”. Maka berkatalah seseorang di majelis tersebut : “Engkau berdusta, engkau jelas munafik. Sungguh akan aku khabarkan (apa yang engkau ucapkan) kepada Rasulullah ”. Maka, sampailah ucapan tersebut kepada Nabi , kemudian turunlah (ayat) Al-Qur’an. ‘Abdullah bin ‘Umar berkata : “Maka aku lihat laki-laki tersebut bergantung pada tali onta Rasulullah , tersandung batu-batu, sambil berkata : ‘Wahai Rasulullah, kami hanya bersendau-gurau dan bermain-main saja”.  Dan Rasulullah bersabda : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu mengolok-olok?.  Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman (QS. At-Taubah : 65-66)[Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 14/333-334 no. 16912; shahih].
Para shahabat menghukumi secara dhahir perkataan mereka yang mengolok-olok kaum muslimin (para shahabat) yang berjihad dengan harta dan darah mereka di medan perang melawan kuffaar sebagai satu kemunafikan. Apa yang mereka katakan kemudian dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kekafiran orang-orang munafik tersebut yang melakukan istihzaa’ (olok-olok). Istihzaa’ terhadap syari’at Islam dan orang-orang yang menjalankannya adalah kekafiran[7].
Di dalam negeri, spesies munafik seperti ini memang eksis. Mereka ber-KTP Islam, terpelajar, tidak gila, paham bahasa Arab, namun menyembunyikan kekufuran. Seperti misal orang yang mengatakan jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Rasul dikatakan tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis. Gambaran tentang Tuhan yang sibuk mengurusi segala tetek bengek urusan manusia itu sudah tidak tepat lagi. LGBT, nggak apa-apa… Dan lain sebagainya….
Seandainya ada yang yakin akan kemunafikan seseorang, maka itu baginya dan ia tidak harus mewajibkan penghukumannya/keyakinannya itu kepada orang lain, karena kemunafikan adalah sesuatu yang asalnya tersembunyi[8]. Memvonis seseorang sebagai munafik yang jelas kemunafikannya harus hati-hati, karena ini terkait dengan pengeluaran seseorang dari wilayah Islam. Harus dengan bukti yang kuat.
Dulu, sebagian shahabat pernah berkumpul dan berbincang tentang kaum munafik. Pembicaraan mereka tertuju kepada seorang shahabat yang mereka indikasikan kuat termasuk kaum munafik. Shahabat itu bernama Maalik bin Ad-Dukhaisyin. Dikarenakan tidak melihat keberadaannya, maka Nabi bertanya : “Dimanakah Maalik bin Ad-Dukhaisyin ?”. Sebagian shahabat menjawab : “Orang itu munafik yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Maka Rasulullah bersabda :
لَا، تَقُلْ ذَلِكَ، أَلَا تَرَاهُ قَدْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُرِيدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Jangan engkau katakan itu. Tidakkah engkau melihat bahwa ia mengatakan : ‘tidak ada tuhan yang berhak diibadahi melainkan Allah’, yang ia menginginkan dengannya wajah Allah ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 425].
Tidak semua orang yang melakukan kemaksiatan dan cabang-cabang kemunafikan (nifak amaliy) dikandangkan bersama orang munafik tulen sejenis Ibnu Saluul. Hanya karena urusan Pilkada, semua orang yang pro komunitas serbet dianggap munafik yang Allah larang untuk menyalatkannya (dengan mengambil dalil QS. At-Taubah : 84). Bahkan, akibat akrobat fatwa yang diproduksi kalangan tertentu, sebagian masjid ada yang pasang spanduk tidak mau menyalatkan (dan mengurus) jenazah para korban Pilkada. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun….
Benar, dalam barisan komunitas serbet ada kloningan Ibnu Saluul, tapi tidak dapat dipukul rata. Banyak diantara mereka yang memilih hanya karena alasan ‘anggapan’ bersih korupsi, berhasil menata kota, tidak suka kelompok ekstrim, alasan uang, atau perkara dunia lainnya….. sebagaimana Haathib yang menolong orang kafir karena faktor kerabat, atau Sa’d bin ‘Ubaadah yang membela Ibnu Saluul karena faktor kesukuan.
Dulu, ketika Nabi tidak menyalatkan orang yang berhutang, beliau bersabda :
صَلُّوْا عَلَى صَاحِبِكُمْ
Shalatlah kalian untuk shahabat kalian ini[9]
Artinya, beliau tetap memerintahkan kepada para shahabat untuk menyalatinya, karena hukumnya wajib (kifayah). Ini pertama.
Kedua, seandainya kita tidak menyalatinya, maka dapat berakibat memberikan mudlarat kepada keluarganya yang barangkali berbeda pendapat/pemikiran dengannya. Edukasi peringatan agar orang lain tidak meniru perbuatannya tak teraih, dan justru memberikan stigma negatif terhadap Islam dan kaum muslimin.
Ketiga, shalat jenazah selain bermanfaat bagi si mayit, juga – dan inilah yang justru terpenting – merupakan amal shalih yang membuahkan pahala bagi siapa saja yang melakukannya. Amal shalih yang kelak menjadi bekal bagi kita di akhirat. Nabi bersabda:
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ "، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟، قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga jenazah itu dishalati, maka baginya pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga dikuburkan, maka baginya pahala dua qirath”. Dikatakan : “Apa maksud dua qirath ?”. Beliau menjawab : “Seperti dua gunung yang sangat besar” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1325].
Mendoakan kebaikan dan ampunan bagi si mayit dan keluarganya bukanlah amalan yang sia-sia. Nabi bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata : ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2733].
Itu saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – keheningan malam, 18032017].




[1]    Bisa dibaca artikel : Mendemo Nabi ?.
[2]    Artinya, setelah itu ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul secara dhahir masuk Islam dalam pandangan Usaamah (dan para shahabat lain).
[3]    Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” [QS. An-Nuur : 11].
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ، قَالَتْ: " عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ "
Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang ayat : ‘Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu (QS. An-Nuur : 11), ia berkata : “’Abdullah bin Ubay bin Saluul” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4749].
[4]    Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya:
إذا ترك العلماء الصلاة على أهل البدع، ألا يكون فعلهم هذا قدوة لترك الناس الصلاة عليهم؟
“Apabila para ulama meninggalkan shalat (jenazah) terhadap ahli bid’ah, apakah perbuatan mereka ini merupakan teladan/contoh bagi manusia (yang lain) untuk meninggalkan shalat terhadap mereka juga?”.
Beliau rahimahullah menjawab :
الصلاة على الميت المسلم واجبة وإن كانت لديه بدعة، ويصلي عليهم بعض الناس إذا كانت بدعتهم لا تخرجهم عن الإسلام، أما إذا كانت بدعتهم توجب كفرهم فإنه لا يصلى عليهم، ولا يستغفر لهم؛ كالجهمية والمعتزلة والرافضة الذين يدعون علياً رضي الله عنه، ويستغيثون به وبأهل البيت وأشباههم؛ لقول الله سبحانه في المنافقين وأشباههم: وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
“Shalat atas seorang mayit muslim wajib hukumnya meskipun padanya terdapat kebid’ahan. Sebagian manusia menyalatkan mereka apabila bid’ah mereka tidak mengeluarkan mereka dari Islam (murtad). Namun apabila bid’ah mereka mengkonsekuensikan kepada kekufuran, maka tidak boleh menyalatkan mereka. Tidak boleh pula memintakan ampunan (kepada Allah) untuk mereka, seperti )bid’ah) Jahmiyyah, Mu’tazillah, dan Raafidlah yang berdoa kepada ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu, ber-istighatsah (meminta pertolongan agar dihilangkan segala kesusahan) kepadanya dan kepada ahlul-bait, dan yang serupa. Hal ini berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’ala tentang orang-orang munafik dan yang serupa mereka : ‘Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), dan janganlah kamu berdiri untuk mendoakan di kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (QS. At Taubah: 84)” [sumber : https://goo.gl/acpqKd].
Syaikh berdalil dengan QS. At-Taubah ayat 84 yang terkait dengan orang munafik, adalah bagi orang-orang yang telah kafir, keluar dari agama Islam (murtad).
[5]    Adapun hadits:
أَرْبَعٌ، مَنْ كُنَّ فِيْهِ، كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ، كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
"Ada empat sifat yang barangsiapa empat sifat tersebut ada padanya, maka ia adalah seorang munafik tulen. Barangsiapa yang padanya terdapat salah satu dari empat perkara tersebut, maka dalam dirinya terdapat karakter kemunafikan hingga dia meninggalkannya. (Empat perkara tersebut adalah) : 1) apabila diberi amanat berkhianat, 2) apabila berbicara berdusta, 3) apabila berjanji mengingkari, dan 4) apabila bertikai, dia berlaku aniaya
Para ulama berbeda pendapat tentang makna munaafiqan khaalishan (munafik tulen) dalam hadits ini. Ada yang mengatakan pemutlakan nifak tersebut sebagai peringatan agar manusia tidak melakukan sifat-sifat nifaq ini. Ada yang mengatakan makna munafik tulen di situ adalah orang yang apabila berkata tentang sesuatu, maka ia pasti berdusta; jika berjanji, pasti mengingkari, dan seterusnya. Ada yang mengatakan maknanya adalah nifaq amaliy, dan inilah yang dikuatkan Ibnu Hajar [lihat selengkapnya : Fathul-Baariy, 1/90-91].
[7]    Perlu hati-hati sebelum ketok palu takfir terhadap seseorang atas perbuatan istihzaa’ yang dilakukannya. Ulama Lajnah Daaimah pernah ditanya tentang hukum orang yang mengolok-olok sebagian perkara-perkara yang disunnahkan seperti siwak, pakaian di atas mata kaki, dan minum sambil duduk; maka dijawab :
من استهزأ ببعض المستحبات، كالسواك، والقميص الذي لا يتجاوز نصف الساق، والقبض في الصلاة، ونحوها مما ثبت من السنن؛ فحكمه: أنه يبين له مشروعية ذلك، وأن السنة عن الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ دلت على ذلك؛ فإذا أصر على الاستهزاء بالسنن الثابتة: كفر بذلك، لأنه بهذا يكون متنقصا للرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولشرعه، والتنقص بذلك كفر أكبر
”Barangsiapa yang mengolok-olok sebagian perkara yang disunnahkan, seperti siwak, berpakaian tidak melebihi pertengahan betis, bersedekap ketika shalat dan lainnya yang telah tetap dari Sunnah; maka hukumnya adalah : Hendaknya ia diberikan penjelasan tentang disyari’atkannya perbuatan tersebut (yang ia olok-olok). Bahwasannya Sunnah Rasul menunjukkan demikian. Apabila setelah diberi penjelasan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari Sunnah yang telah tetap, (orang tersebut masih saja mengolok-olok), maka ia telah kufur. Hal itu disebabkan karena ia telah mencela dan menghujat Rasul dan syari’atnya. Mencela dan menghujat yang seperti ini maka termasuk kufur akbar” [Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah, hal. 141-142].
Dalam fatwa lain:
سب الدين والاستهزاء بشيء من القرآن والسنة والاستهزاء بالمتمسك بهما نظرًا لما تمسك به كإعفاء اللحية وتحجب المسلمة؛ هذا كفر إذا صدر من مكلف، وينبغي أن يبين له أن هذا كفر فإن أصر بعد العلم فهو كافر، قال الله تعالى  قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Mencela agama, menghina Al-Qur'an dan Sunnah, serta menghina orang yang berpegang teguh dengan keduanya, seperti memanjangkan jenggot, menutup muka bagi seorang muslimah; hal ini termasuk kafir, jika ini dilakukan oleh orang dewasa. Dan hendaklah dijelaskan kepadanya bahwa ini adalah kekufuran. Jika ia tetap melakukannya setelah mengetahui hukumnya, maka ia adalah kafir. Allah ta'ala berfirman : “Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman” (QS. At-Taubah : 65-66)…..” [sumber : sini].
[8]    ‘Umar bin Al-Khaththaab tidak mau menyalati jenazah seseorang yang Hudzaifah bin Al-Yamaan radliyallaahu ‘anhumaa tidak menyalatinya. Hudzaifah adalah shaahibus-sirr yang mengetahui individu-individu munafik karena diberi tahu oleh Rasulullah .
[9]    Nabi pernah meninggalkan menyalatkan jenazah orang yang bunuh diri, memiliki tanggungan hutang, dan melakukan perbuatan ghuluul sebagai hukuman dan tarhiib (upaya menakuti) atas perbuatan mereka, dan juga peringatan kepada umat agar menjauhi perbuatan yang mereka lakukan.
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ، فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ
Dari Jaabir bin Samurah, ia berkata : “Pernah didatangkan kepada Nabi jenazah seorang laki-laki yang bunuh diri dengan tombak, namun beliau tidak mau menyalatkannya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 978].
عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ ؟ قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟ قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: عَلَيَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَصَلَّى عَلَيْهِ
Dari Salamah bin Al-Akwa’ radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya pernah didatangkan kepada Nabi jenazah untuk dishalatkan. Maka beliau bertanya : "Apakah ia mempunyai hutang?". Mereka berkata : "Tidak". Maka beliau pun menyalatkannya. Kemudian didatangkan lagi jenazah lain. Beliau bertanya : "Apakah orang ini punya hutang?". Mereka menjawab : "Ya". Beliau bersabda: "Shalatilah saudaramu ini". Abu Qataadah berkata : "Aku yang menanggung hutangnya wahai Rasulullah". Maka beliau menyalatkannya [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2295].
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ، قال: مَاتَ رَجُلٌ بِخَيْبَرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ إِنَّهُ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ "، فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا فِيهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ مَا يُسَاوِي دِرْهَمَيْنِ
Dari Zaid bin Khaalid, ia berkata : “Seseorang meninggal di Khaibar. Lalu Rasulullah bersabda : “Shalatilah shahabat kalian ini. Sesungguhnya ia telah berbuat ghuluul di jalan Allah”. Maka kami pun memeriksa perbekalan yang ia bawa dan kami dapati padanya batu mulia dari perhiasan orang-orang Yahudi yang tidak mencapai dua dirham [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1959; dilemahkan oleh Al-Albaaniy dalam Dla’iif Sunan An-Nasaa’iy hal. 66-67, namun dihasankan oleh Al-Arna’uth dalam takhriij Sunan Abi Daawud 4/344].

Comments

Admin Almufid.net mengatakan...

Alhamdulillāh.. sangat bermanfaat, Ustadz.

Jazākumullāhu khayran.

( By: Admin Almufid.net )

Afqi Al-Pantouw mengatakan...

Sangat di sesalkan, akibat sikap tasarru' dalam mentahdzir.. .Maka timbulah sikap hajr yang membabi buta (dengan adanya spanduk itu)..

Oh iya ustadz, apakah mereka tidak tahu dhowabitnya dalam tahdzir dan hajr, hingga pada akhirnya jenazah saudara seiman pun di hukumi seperti jenazah orang kafir ?

Mohammad Ali mengatakan...

Kalau mensholatkan orang berakidah mujassimah bagaimana hukumnya??