Penerapan Kaedah Hamlul-Mujmal ‘alal-Mufashshal dalam Perkataan Manusia Bukan Bid’ah



Maksud kaedah hamlul-mujmal ‘alal-mufashshal adalah membawa sesuatu yang sifatnya mujmal (global) pada sesuatu yang sifatnya mufashshal (terperinci). Banyak orang-orang belakangan yang mengatakan bahwa penerapan kaedah ini hanya berlaku pada nash-nash syar’iy (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Menerapkannya pada perkataan manusia adalah bid’ah. Perkataan ini tidaklah benar. Pada kesempatan ini akan saya bawakan sedikit perkataan (singkat) sebagian ulama Ahlus-Sunnah dalam permasalahan tersebut :
‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu :
Beliau radliyallaahu ‘anhu pernah berkata :
لَا تَظُنُّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ فِيِّ مُسْلِمٍ شَرًّا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلًا
“Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap satu kalimat yang diucapkan seorang muslim padahal engkau (masih) mendapatkan baginya kemungkinan yang baik” [Mudaaraatun-Naas oleh Ibnu Abid-Dunyaa no. 45].
Asy-Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbaad hafidhahullah :
Beliau hafidhahullah pernah berkata :
وإذا وُجد لأحد من أهل السنة كلام مجمل وكلام مفصَّل فالذي ينبغي إحسان الظن به وحمل مجمله على مفصله؛لقول عمر رضي الله عنه: ((ولا تظننَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلا خيراً وأنت تجد لها في الخير محملاً)).
“Apabila didapatkan pada seseorang dari kalangan Ahlus-Sunnah perkataan mujmal dan mufashshal, maka hendaknya berprasangka baik dengannya dan membawa perkataan mujmal pada yang mufashshal-nya. Hal itu berdasarkan perkataan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘Janganlah engkau berprasangka terhadap satu kalimat yang diucapkan saudaramu yang mukmin kecuali kebaikan, sedangkan engkau (masih) mendapatkan baginya kemungkinan makna yang baik” [Kalimatun Taudliih haula Nashiihatusy-Syaikh An-Najmiy].
Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah
Beliau pernah ditanya :
هل يحمل المجمل على المفصل في كلام الناس؟أم هو خاصٌ بالكتاب والسنة؟ نرجو التوضيح ـ حفظكم الله ـ؟
“Apakah mesti membawa yang mujmal pada yang mufashshal dalam perkataan manusia ? Ataukah, kaedah tersebut hanya khusus berlaku pada Al-Kitab dan As-Sunnah ?. Kami harapkan penjelasan dari Anda – hafidhakumullah – “.
Beliau hafidhahullah menjawab :
الأصل إن حمل المجمل على المفصل ,الأصل في نصوص الشرع من الكتاب والسنة، لكن مع هذا؛نحمل كلام العلماء، مجمله على مفصله، ولا يُقَوَّل العلماء قولا مجملاً، حتى يُرْجَع إلى التفصيل من كلامهم، حتى يرجع إلى التفصيل من كلامهم، إذا كان لهم قول مجمل، وقول مفصّل، نرجع إلى المفصل, ولا نأخذ المجمل
“Pada asalnya, kaedah hamlul-mujmal ‘alal-mufashshal berlaku pada nash-nash syar’iy dari Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Akan tetapi bersamaan dengan itu, kita membawa perkataan ulama yang bersifat mujmal kepada yang mufashshal. Dan tidaklah dinisbatkan pada ulama satu perkataan mujmal, hingga dikembalikan pada tafshiil (perincian) dari perkataan mereka, hingga dikembalikan pada tafshiil (perincian) dari perkataan mereka. Apabila mereka mempunyai perkataan mujmal dan mufashshal, kita kembalikan pada yang mufashshal dan kita tidak mengambil yang mujmal” [Dari kaset berjudul : At-Tauhiid yaa ‘Ibaadallaah, soal no. 6 setelah selesai muhaadlarah].
Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz Ar-Raajihiy hafidhahullah :
Beliau pernah ditanya tentang kaedah hamlul-mujmal ‘alal-mufashshal, maka beliau menjawab :
يُحمل المجمل على المفصل، في كلام الله، وكلام رسوله،وكلام العلماء
“Yang mujmal dibawa kepada yang mufashshal dalam firman Allah, sabda Rasul-Nya, dan perkataan para ulama”.
Kemudian dikatakan pada beliau tentang pendapat sebagian orang yang mengatakan tidak boleh membawanya (mujmal) pada mufashshal dalam perkataan ulama. Maka beliau menjawab :
هذا ليس بصحيح
“Pendapat ini tidak benar” [Dari kaset Al-Iqtishaad fil-I’tiqaad].
Itu saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 09041434/19022013 – 01:14].

Comments

Anonim mengatakan...

bismillah.
apakah bisa diberikan contoh kasusnya dalam pemabahasan ini ?

jazakAllahu khoiron

Anonim mengatakan...

ya ini tidak ada contohnya, harusnya sertakan dengan masalah yang terkait dengan sebab dan alasan penulis membawa tema secam ini. Karena penulisan ini tentu punya latar belakang masalah yang tafshil bukan kaidah yang mujmal aja.

Anonim mengatakan...

bissmillah ,assalamu'alaikum.


Afwan ustad, contoh dari kasus diatas apa ?

Ibnu helmi

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Salah satu contohnya adalah perkataan Asy-Syaikh Al-Albaaniy : tidak ada kekufuran kecuali dengan i’tiqaad (لا كفر إلا باعتقاد). Sebagian orang mengkritiknya karena perkataan ini mengkonsekuensikan bahwa tidak ada kekufuran akbar kecuali disebabkan oleh i'tiqaad dalam hati. Konsekuensinya kekufuran akbar tidak akan jatuh karena anggota badan (jawaarih).

Mensifati ini pada diri Asy-Syaikh Al-Albaaniy seperti ini tidaklah benar, karena ada perkataan lain yang lebih rinci yang menjelaskan yang dimaksud beliau tersebut. Yang dimaksud beliau adalah "tidak ada kekufuran pada dhahir kecuali dan didahului dengan kekufuran batin, karena hati merupakan pokok". Asy-Syaikh Al-Albaaniy telah berulangkali menjelaskan kekufuran itu bisa terjadap pada amal jawaarih. Di antara perkataan beliau adalah :

لقد أفاد رحمه الله أن الكفر نوعان: كفر عمل، وكفر جحود واعتقاد.
وأن كفر العمل ينقسم إلى ما يضاد الإيمان، وإلى ما لا يضاده، فالسجود للصنم، والاستهانة بالمصحف، وقتل النبي وسبه؛ يضاد الإيمان.

“Beliau (Ibnul-Qayyim) telah memberikan satu penjelasan bahwa kekufuran itu ada dua macam, yaitu kufur amal serta kufur juhuud (pengingkaran) dan i'tiqaad. Kufur amal terbagi menjadi (dua, yaitu) kekufuran yang menjadi lawan/kebalikan dari keimanan dan yang bukan menjadi lawan dari keimanan. Adapun sujud kepada berhala, menghina mushhaf, serta membunuh dan menghina Nabi termasuk kekufuran yang bertentangan dengan iman (sehingga dapat mengkonsekuensikan kepada kufur akbar)” [Silsilah Ash-Shahiihah, 7/134].

Oleh karena itu wajib membawa perkataan Syaikh Al-Albaaniy di awal pada kemungkinan makna yang baik.

Semoga satu contoh di atas dapat menjelaskan.