Bentuk-Bentuk Istihlaal

0 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
العبد إذا فعل الذنب مع اعتقاد أن الله حرمه عليه ، واعتقاد انقياده لله فيما حرمه وأوجبه : فهذا ليس بكافر.
فأما إن اعتقد أن الله لم يحرمه ، أو أنه حرمه لكن امتنع من قبول هذا التحريم ، وأبى أن يذعن لله وينقاد : فهو إما جاحد ، أو معاند.
ولهذا قالوا: من عصى مستكبرا كإبليس كفر بالاتفاق.
ومن عصى مشتهيا لم يكفر عند أهل السنة والجماعة، وإنما يكفره الخوارج.
فإن العاصي المستكبر وإن كان مصدقا بأن الله ربه ، فإن معاندته له ومحادته تنافي هذا التصديق.
وبيان هذا : أن من فعل المحارم مستحلا لها فهو كافر بالاتفاق ، فإنه ما آمن بالقرآن من استحل محارمه ، وكذلك لو استحلها بغير فعل.

Tidak Berstatus Kafir, tapi Tidak Juga Berstatus Muslim

0 komentar

Sebagian ulama Najd rahimahumullah berkata:
فنقول: إذا كان يعمل بالكفر والشرك، لجهله، أو عدم من ينبهه، لا نحكم بكفره حتى تقام عليه الحجة؛ ولكن لا نحكم بأنه مسلم، بل نقول عمله هذا كفر، يبيح المال والدم، وإن كنا لا نحكم على هذا الشخص، لعدم قيام الحجة عليه؛ لا يقال: إن لم يكن كافرا، فهو مسلم، بل نقول عمله عمل الكفار، وإطلاق الحكم على هذا الشخص بعينه، متوقف على بلوغ الحجة الرسالية.
“Kami katakan : Apabila seseorang melakukan perbuatan kekufuran dan kesyirikan karena kejahilannya atau karena ketiadaan orang yang memberikan peringatan kepadanya, kami tidak menghukuminya dengan kekufuran (kafir) hingga ditegakkan padanya hujjah, tetapi kami juga tidak menghukuminya muslim. Namun kami katakan perbuatannya ini kufur yang menghalalkan harta dan darahnya. Meskipun kami tidak menghukumi orang tersebut (dengan kekufuran/kafir) dikarenakan ketiadaan penegakan hujjah kepadanya, tidak lantas dikatakan : ‘Seandainya ia bukan orang kafir, maka ia muslim’. Namun yang kami katakan perbuatannya itu adalah perbuatan orang kafir. Dan memutlakkan hukum atas orang ini secara individu tergantung pada sampainya hujjah risaaliyyah[1]” [Ad-Durarus-Saniyyah, 10/136].

Analog yang Tidak Tepat

0 komentar

Orang yang meniadakan ‘udzur kejahilan sering berdalil dengan syarat ilmu dalam kalimat Laa ilaha illallaah dan kemudian mengqiyaskannya dengan wudlu. Jika wudlu seseorang batal, maka batallah shalat. Begitu juga dengan syarat ilmu. Jika syarat ini batal (karena kejahilan), maka batallah kalimat Laa ilaha illallaah sehingga beralih status dari muslim menjadi kafir (murtad). Dengan ini, ‘udzur kejahilan ditiadakan.
Padahal analog ini tidak tepat dengan alasan:

Kafir Secara Lahir dan Batin

4 komentar

Tanya : Apakah benar jika kita melihat kekafiran atau kesyirikan (akbar), kita menghukumi pelakunya dengan kekufuran lahir tanpa perlu iqaamatul-hujjah. Adapun iqaamatul-hujjah hanya untuk memastikan yang bersangkutan kufur secara batin. Jika ia menolak, maka ia kufur secara lahir dan batin.
Jawab : Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasululillah wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi wa man waalah, amma ba’d :
Madzhab Ahlus-Sunnah mensyaratkan iqaamatul-hujjah (penegakan hujjah) terlebih dahulu sebelum pengkafiran terhadap individu tertentu (mu'ayyan). Iqaamatul-hujjah adalah menyampaikan dalil kepada orang yang belum sampai hujjah itu kepadanya atau samar baginya, serta menjelaskan dan memahamkannya[1] tentang kebenaran dan sekaligus kebatilan yang mereka lakukan. Ini adalah prinsip umum dalam pengkafiran sebagaimana ditegaskan para ulama kita dari zaman ke zaman.

Sarana Menuju Kesyirikan dan Kesyirikan

0 komentar

Mempelajari ta'shil tauhid dan syirik itu penting sehingga dapat membedakan dengan tepat mana syirik akbar dan mana syirik ashghar.
Sujud (menghadap) kepada kuburan sebagai misal. Dalam hadits disebutkan:
لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya" [Diriwayatkan oleh Muslim].
Shalat - yang di dalamnya ada SUJUD - dengan menghadap kubur haram hukumnya. Namun apakah shalat dengan menghadap kubur itu syirik akbar ?. Jawabnya TIDAK, jika shalat yang ia lakukan hanya untuk Allah semata. Perbuatannya tersebut merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada syirik akbar, bukan syirik akbar itu sendiri.