Telaga Rasulullah ﷺ di Akhirat

1 komentar


Tanya : Apakah Rasulullah memang mempunyai telaga di akhirat sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang ?
Jawab : Termasuk bagian dari prinsip ’aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah mengimani adalah Al-Haudl (telaga) yang diperuntukkan bagi Nabi Muhammad di akhirat. Airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, aromanya lebih harus daripada minyak kesturi, jumlah bejananya lebih banyak daripada bintang-bintang di langit, serta panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan. Barangsiapa yang meminum seteguk air darinya, dia tidak akan dahaga selamanya. Yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan bid’ah dalam agama. Nabi bersabda :

Menjawab Adzan Dulu, Atau Langsung Sholat Tahiyyatul Masjid Kemudian Duduk Mendengarkan Khuthbah ?

0 komentar


Yaitu, ketika (menjelang) shalat Jum’at. Para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama mengatakan ia berdiri menjawab adzan, dan ketika telah selesai ia baru shalat tahiyyatul-masjid; sebagian ulama lain mengatakan ia langsung shalat tahiyyatul-masjid agar tidak kehilangan khuthbah Jum’ah dari awal waktu.
Sebelumnya mari kita perhatikan hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: " إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلَائِكَةُ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ "
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Nabi : “Apabila hari Jum’at tiba, maka di setiap pintu masjid terdapat malaikat yang mencatat siapa saja yang hadir lebih dahulu (untuk menghadiri shalat Jum’at). Apabila imam telah duduk (di atas mimbar), mereka melipat/menutup lembaran catatan kitab untuk turut mendengarkan adz-dzikr (khutbah)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3211 dan Muslim no. 850].

Modifikasi Kesyirikan

0 komentar


Dewi Sri adalah tokoh mitologi Hindu yang konon menjadi sumber asal tanaman padi. Karenanya lah kemudian masyarakat agraris tradisional (baca : kuno) Jawa-Bali memujanya sebagai lambang keberkahan dan kesuburan dengan segala ritualnya yang kental dengan nuansa animisme dan dinamisme. Ritual tersebut masih banyak dilakukan masyarakat hingga kini.
Misalnya saja ritual Mapag Dewi Sri yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai utara Jawa Barat (Cirebon, Idramayu, dan Subang). Ritual ini merupakan perkawinan antara budaya Sunda Kuno dan ‘budaya Islam Jawa[1]’ yang dilakukan untuk menyambut panen raya padi[2]. Dewi Sri (Nyai Pohaci Sanghyang Asri) dianggap masyarakat sebagai subjek (halusinasi) penjaga padi yang menghantarkan mereka pada musim panen. Teknis pelaksanaan ritual Mapag (Dewi) Sri tidak sama persis satu daerah dengan daerah lainnya. Namun satu elemen penting yang menjadi kesamaannya adalah keberadaan sesaji/sesajen[3]. Prosesinya, sesajen dibawa ke tempat padi yang diikat[4] lalu disimpan di sekitar padi tersebut. Setelah itu padi didoai oleh punduh, sesepuh para petani yang (dianggap) mempunyai kemampuan supernatural[5]. Padi tersebut kelak dijadikan bibit.

Memelihara Anjing

1 komentar


Tempo hari viral diberitakan seseorang wanita berjilbab besar dan bercadar yang punya kegemaran memelihara/mengasuh anjing. Bukan hanya 1 (satu) ekor, akan tetapi berekor-ekor. Bukan hanya anjing kampung kudisan (sehingga punya alasan untuk menaruh iba), tapi juga ‘anjing (agak) mahal’.
Btw, mari kita sejenak mengkaji secara ringkas, bagaimana syari’at Islam memandangnya.
Ada beberapa hadits yang terkait dengan permasalahan ini, antara lain:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا، إِلَّا كَلْبَ مَاشِيَةٍ، أَوْ ضَارِي، نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah : “Barangsiapa memelihara anjing selain untuk menjaga ternak atau untuk berburu, akan berkurang (pahala) amalannya, setiap harinya sebesar dua qirath” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5480-5482 dan Muslim no. 1574].

Casing Boleh Sama, Isinya Beda

1 komentar


Allah ta'ala berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" [QS. Ar-Rahmaan : 26-27].
Al-Imaam Ibnu Khuzaimah rahimahullah dalam kitab At-Tauhiid (1/51-52) mengatakan bahwa sebagian orang bodoh dari kalangan JAHMIYYAH menyangka bahwa Allah ta'ala menyifati keagungan Diri-Nya dengan ayat ini. Mereka mengatakan Allah lah yang mempunyai kebesaran/keagungan dan kemuliaan, bukan wajah-Nya, sebagaimana ayat (lain) :