Wudlu karena Berkata Buruk/Kotor

0 komentar

Salah satu akhlaq terpuji dari kalangan salaf adalah penjagaan lisan mereka untuk tidak berkata-kata buruk/kotor yang mengandung maksiat. Mereka sangat perhitungan dan selektif atas apa yang akan keluar dari lisan-lisan mereka. Bahkan sebagian diantara mereka mengulangi wudlu’ dan memperingatkan orang lain melakukan hal serupa ketika mengucapkan perkataan buruk/kotor atau munkar. Diantara riwayatnya adalah:

Asy-Syaikh 'Abdullah, Ibnu Hajar Al-Haitamiy, dan Udzur Kejahilan

1 komentar

Memperhatikan pengamalan seorang ulama terhadap satu kaedah akan menggambarkan kejelasan kaedah tersebut. Lebih terbayang di benak penuntut ilmu bagaimana gambarannya dan mengikis kemungkinan beda paham dalam mengartikan kaedah yang dijelaskan ulama.
Dulu saya telah jelaskan bagaimana mauqif Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdil-Wahhaab rahimahullah terhadap ‘udzur kejahilan dalam permasalahan ushuuluddin [http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/12/asy-syaikh-muhammad-bin-abdil-wahhaab.html]. Kemudian saya pun jelaskan bagaimana praktek beliau rahimahullah dalam penyikapan terhadap Al-Buushiiriy, Ibnu ‘Arabiy, dan Ibnul-Faaridl, berikut keterangan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah tentangnya [http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/05/pandangan-asy-syaikh-muhammad-bin-abdul.html].

Hijab dan Udzur Kejahilan

0 komentar

Pertanyaan : "Sesungguhnya kebiasaan di negeri kami adalah para wanita pergi berbelanja memenuhi kebutuhan di pasar tanpa mengenakan hijab. Dan kami tahu bahwa perbuatan tersebut diharamkan. Akan tetapi kami tidak sanggup untuk mengupah pembantu untuk pergi berbelanja memenuhi kebutuhan dikarenakan kefakiran kami. Dan kami - para laki-laki - pun tidak mampu berbelanja untuk memenuhi kebutuhan. Kami khawatir terhadap para wanita kami apabila mereka keluar dengan hijab islamiy, orang-orang kafir akan mengganggu mereka dengan berbagai fitnah dan kedhaliman. Karena kami adalah kaum muslimin yang senantiasa sangat sedikit jumlahnya dan sangat lemah".

Ketika Disengat Kalajengking

0 komentar

Dari 'Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu 'anhu, ia berkata:
لَدَغَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَقْرَبٌ وَهُوَ يُصَلِّي، فَلَمَّا فَرَغَ، قَالَ: لَعَنَ اللَّهُ الْعَقْرَبَ لا تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلا غَيْرَهُ، ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ، وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بِ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
"Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam disengat seekor kalajengking ketika beliau sedang shalat. Setelah usai, beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Semoga Allah melaknat kalajengking. Ia tidak meninggalkan orang yang sedang shalat atau selainnya (kecuali disengatnya)'. Kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan air dan garam, lalu mengusapkannya di atas luka sengatan dan membacakan Qul yaa ayyuhal-kaafiruun, qul a'uudzu birabbil-falaq, dan qul a'uudzu birabbin-naas".

Turunnya Al-Qur’an Secara Ibtida’i dan Sababi

0 komentar

Turunnya Al-Qur’an dibagi menjadi dua macam :
1.    Secara Ibtida’i
Yaitu, ayat Al-Qur’an turun tanpa didahului oleh suatu sebab yang melatarbekanginya. Dan ini adalah keumuman ayat-ayat Al-Qur’an. Diantaranya adalah firman-Nya ta’ala:
 وَمِنْهُمْ مّنْ عَاهَدَ اللّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصّدّقَنّ وَلَنَكُونَنّ مِنَ الصّالِحِينَ
Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah; sesungguhnya Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bershadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih” [QS. At-Taubah : 75].